Teaching and Learning di Universitas UK (Bagian 1)

Banyak sekali orang yang bertanya bagaimana sih rasanya menjadi seorang dosen atau tenaga pengajar di universitas di negeri sang Ratu Elizabeth. Apa saja tantangannya, kelebihan dan lain-lain yang bersangkutan dengan pengajaran. Semoga tulisan ini bisa memberikan gambaran bagi para dosen di Indonesia dan mungkin buat para mahasiswa juga tentang pengajaran di sini.

Yang jelas ada enaknya dan ada tidak enaknya jadi pengajar. Tapi gimana caranya menjelaskan dengan gamblang (jelas). Masa seorang dosen tidak bisa menjelaskan. Ha ha ha ha. Of course I can. Kayaknya lebih enak kalau aku ambil contoh cara memgajar di salah satu module ku (mata kuliah).

Bulan Juni adalah akhir tahun di department ku, semua administrasi dan marking sudah selesai. Kita mengadakan review untuk semua mata kuliah yang ada di department. Mana yang perlu improvement dan mana yang success. Masukkan ini datang dari mahasiswa yang mengisi questionaire di akhir semester untuk setiap mata kuliah yang mereka ikuti. Pasti, ada argument, kalau di Indonesia khan mahasiswanya banyak dan mereka pasti “membalas dendam” karena tidak senang dengan mata kuliah tertentu. Mahasiswa memiliki hak dan kewajiban selama mereka belajar di Universitas. Salah satu hak adalah memberikan opini atau feedback mereka tentang mata kuliah baik itu materi, ruangan, assignment, atau cara mengajar meskipun mereka mengisi dengan apa adanya atau berbohong, kita tetap harus menerima. Kami di University of Derby memberikan questionaire ke mahasiswa yang mana mereka mengisi tanpa harus memberikan nama atau student ID. Anyway, setelah kita peroleh data dari questionaire, kita mulai menelaah apa yang bisa di improve termasuk dengan mengganti atau memindah dosen ke mata kuliah yang lain. Semua dosen memiliki ilmu, pengetahuan dan karakter sendiri-sendiri. Ketua Jurusan juga akan memberikan masukkan siapa yang lebih cocok untuk mengajar di mata kuliah tersebut. Setelah semua dosen agree di meeting ini, jadwal mata kuliah pun dibuat dan inipun harus dengan persetujuan kajur atau beberapa kajur kalau mata kuliahnya di share di beberapa jurusan. Tujuannya adalah memberikan flexibility dan fairness kepada jurusan yang lain dan juga keypads mahasiswanya. Biasanya hanya 2 atau 3 mata kuliah yang berganti dosen atau pengajarnya dan Kadang juga tidal berganti sama sekali.

Beberapa dosen mulai mempersiapkan mata kuliah mereka. Kalau aku, dimulai dengan membaca lagi feedback dari para mahasiswa dan juga komentar aku sendiri waktu mengajar (reflective teaching). Aku bisa mengerti apa yang dirasakan oleh mahasiswa di mata kuliah itu seperti contoh “excellent explanation but write too much on whiteboard” dan lain lain.

Aku membaca lagi syllabus mata kuliahku dan me-review apa yang aku ajarkan semester lalu. Pasti banyak yang bilang, kalau sudah mengajar mata kuliah itu semester lalu masa harus direview lagi. Jawaban ku ya harus direview lagi biar ada improvement yang mana akan memberi “best possible learning” ke mahasiswa dan juga ilmu pengetahuan tersebut tidak berhenti tapi berkembang terus. Kalau stagnant berarti ilmu itu sudah “mati”. Tapi mana ada ilmu didunia ini yang berhenti, jawabannya jelas tidak ada.

Baru kita sekarang kita mulai susun lesson plan untuk satu semester. Tiap minggu kita dapat 4 jam nonstop untuk tiap mata kuliah. Biasanya aku ngajar 3 mata kuliah yang berbeda. Kadang satu mata kuliah diulang 2 – 3 kali karena ruangan tidak cukup buat jumlah mahasiswa. Anyway, aku mulai membuat handbook buat mata kuliahku yang isinya mencakup content mata kuliah, assessmentnya apa saja (apakah 100% coursework/essay atau 50/50 essay/exam), reading list, university regulasi, grade scheme (100% – Z) dan terakhir lesson plan. Banyak informasi yang harus dimasukkan ke handbook mata kuliah ini. Tujuan dari pembuatan handbook ini adalah untuk memberikan informasi yang jelas dan terbuka kepada mahasiswa apa yang akan mereka pelajari, apa saja yang diajarkan, bagaimana mereka akan diuji didalam mata kuliah tersebut dan berapa jam mereka mendapatkan kuliah dikelas plus dosennya siapa saja.

Aku ambil contoh dari mengajar di mata kuliah CFD (Computational Fluid Dynamics) untuk lebih enak membacanya. Langkah pertama setelah module handbook setengah jadi, aku membuat lesson plan untuk setiap minggu selama 12 minggu. Setiap perkuliahan kita mendapat 4 jam tatap muka per minggu. Akan tetapi, ada satu minggu khusus untuk activity week atau reading week. Reading/activity week ini biasanya dipergunakan untuk visit ke company, laboratory work, dan lain lain. Istilah kerennya catching up week. Berarti aku hanya punya 11 minggu buat mengajar seluruh indicative content di module ini. Module ini tidak ada official exam yang ada hanya time constrained coursework. Pasti banyak yang tanya apa itu “time constrained coursework” ?. Mungkin di Indonesia sudah ada atau tidak, aku kurang tahu. Time constrained coursework untuk module ini adalah essay yang harus dikerjakan dalam jangka waktu sangst pendek dan dibawah peraturan ujian. Lebih jelasnya begini, pada akhir semester (minggu ke 12) aku mengadakan “ujian” untuk semua mahasiswa di module ini mulai jam 9 pagi sampai jam 5 sore dengan break setiap 2 jam (aturan University untuk activitas yang melibatkan computer, ya semacam health and safety dan ini adalah tanggung jawab dosen). Ujian ini melibatkan analysia di computer dan mereka harus melakukan problem solving dan juga membuat laporan technical (tidak boleh memakai kata aku atau saya) dan harus ada literature review yang memback up finding dari analisa mereka. Laporan ini harus mengikuti standard industry untuk technical report dengan jumlah kata yang tidak lebih dari 3000 kata tidak termasuk daftar isi dan references.

Aku balik lagi ke module handbook, berarti aku hanya punya 10 minggu in total untuk mengajar semua indicative content yang ada di module tersebut. Di module handbook ini juga disebutkan health and safety dan juga risk assessment apa yang sudah ditelaah oleh Universitas. Seperti contoh: mahasiswa harus diberikan istirahat minimum 15 menit jikalau mereka sudah menatap computer selama 1.5 jam penuh, dimana fire exit terdekat, dan lain lain. Ada juga warning kepada mahasiswa tentang plagarism (copycat) dan juga punishment. Yang paling penting adalah equality kepada mahasiswa yang mana di University sudah mempersiapkan sistem untuk mahasiswa yang mendapat kesulitan baik itu jasmani atau rohani (stress dsn lain lain), mahasiswa bisa mengajukan permohonan extension buat deadline mereka jikalau ada hal yang mempengaruhi quality dari assignment atau essay mereka. Seperti contoh sakit (kalau cuman pilek atau pusing) atau computer mendadak rusak tidak akan bisa mendapat extension deadline.

Dari 10 minggu yang tersisa, aku bagi menjadi 4 minggu pertama menjadi theory dan 6 minggu sebagai practical weeks. Minggu pertama aku jadikan sebagai introduction to module dan review for fluid mechanics. Di session ini juga aku berikan test dibidang fluid mechanics dan juga menjadi ajang natural selection. Mahasiswa memiliki waktu 2 minggu untuk memutuskan memilih module ini jikalau module ini adalah sebagai option bagi mereka. Dosen pun memiliki kekuasaan untuk menolak mahasiswa jikalau ilmu mereka sangatlah minim dibidang fluid mechanics atau thermofluids. Minggu kedua aku dedekasikan ke navier stoke theory dan equations. Mahasiswa akan diuji kemampuan dalam solving problem di equation ini. Minggu ketiga aku dedikasikan untuk turbulance modelling dan minggu keempat aku jadikan heat transfer dan finite volume sebagai entarance ke aplikasi CFD. Aku juga memberika beberapa journal papers buat mahasiswa untuk dijadikan ajang diskusi dan indentifikasi masalah. Setiap minggu aku berikan 2 – 3 journal papers. Satu buat didiskusikan dikelas dalam group of 4 students dan mereka harus presentasi didepan kelas. Ini menjadikan kelas menjadi interaksi dan tidak menjadi kelas ES alias beku. Biasanya hanya memakan 1 – 1.5 jam dari empat jam pengajaran. Aku juga memberikan 15 – 30 menit istirahat biar yang merokok bisa merokok termasuk dosennya juga. Ha ha ha ha. Atau beli kopi. Istirahat ini bisa memberikan relaxasi buat mahasiswa dan juga pengajar. Dengan melibatkan dan membaca journal paper mahasiswa nantinya akan menjadi terbiasa untuk menalaah masalah, problem solving dan methodology yang dipakai untuk problem solving tersebut.

Minggu ke lima hingga sepuluh aku dedikasikan untuk practical dalam mengunakan software CFD. Aku mulai dari pengenalan software dan apa yang akan ditampilkan oleh hasil analisa. Bukan hanya mereka bisa menjalankan software, anak kecil juga bisa kalau hanya menjalankan software, tapi yang paling penting adalah bagaimana mereka menginterpretasikan hasil analysia tersebut dalam bentuk critical analysis yang mana orang awam bisa masuk akal dan untuk spcialist bisa mengerti dan mengikuti logic terutama untuk basic science. Setiap software akan memiliki character sendiri dalam menampilkan hasil. Mahasiswa juga diajarkan untuk memodifikasi mesh size dan mengerti effect di boundary condition. Yang paling penting adalah bagaimana mahasiswa harus mengerti problem, setup, apa yang harus dilakukan, hasil apa yang bisa diharapkan dan interprerasi dari hasil. Semua software yang mahasiswa pakai akan diberikan oleh Universitas secara gratis dan dengan demikian mereka juga bisa belajar dirumah dengan mengunakan legal software. Biasanya aku mulai dengan analisa CFD didalam pipa kemudian meningkat ke wing analysis dan lanjut ketingkat heat transfer analysis. Aku juga memodelkan file yang akan aku gunakan untuk practical lesson. Aku juga harus mencoba model dan run simulation plus melihat hasil analisa. Setelah semua lengkap baru aku tulis semua di module handbook.

Tahap berikutnya adalah membuat assignment brief yang harus diberikan ke mahasiswa pada minggu ke dua. Deadline minimum adalah 4 minggu setelah release ke mahasiswa. Setelah aku memikirkan assignment brief dan mengetik semua di assignment brief, aku harus memberikan module handbook dan assignment brief ke teman dosen (internal moderator) yang telah ditunjuk untuk mengoreksinya. Tujuan dari mengoreksi adalah untuk memastikan kalau module handbook sudah lengkap dengan informasi ke mahasiswa dan mengikuti aturan Universitas. Kemudia dia akan membaca assignment brief, dia juga harus memastika kalau assignment itu mengikuti module handbook dan juga aturan Universitas. Apa saja sih yang ada di assignment brief ?. Dimulai dengan introduction kemudian di learning outcome untuk assignment ini. Dilanjut dengan core brief (ini adalah inti dari assignment) dan harus menunjukan dimana posisi grade atau percentage dari assignment. Semisal membuat model (15%), literature review (15%) dan lain lain. Jikalau dosen moderator tidak men-tanda tangani maka module handbook dan assignment brief tidak bisa naik ke tingkat kajur. Kalau internal moderator sudah mensetujui maka dia akan meneruskan ke kajur untuk ditanda tangani dan akan berlanjut untuk dikirimkan kepada pengawas luar (external moderator). Dengan system sepeti ini qualitas dari pengajaran akan terjaga karena dimonitor oleh orang dalam dan luar universitas untuk memastikan mahasiswa akan mendapatkan apa yang sudah di”janjikan” waktu mereka mengambil jurusan. Setelah external moderator setuju maka aku bisa me-release ke mahasiswa dengan mengunakan E-learning platform.

Dr. Dani Harmanto, 16 Juni 2014

Dani Harmanto_600x900px

Dr. Dani Harmanto adalah salah seorang akademisi Indonesia yang mengajar di University of Derby. Selain sebagai pengajar, beliau juga Programme Leader BEng (Hons) Mechanical and Manufacturing. Beberapa mata kuliah yang beliau ajar, antara lain SolidCAD Modelling (Solidworks Basic and Intermediate), Engineering Application Design Modelling (Solidworks Advanced) dan Stress & FEA. Profil beliau dapat dilihat di sini: http://www.derby.ac.uk/staff/dani-harmanto/

 

 

Dikutip dari: http://daniharmanto.wordpress.com/2014/06/16/teaching-and-learning-di-universitas-uk-1/

Comments are closed.

Books (Free)

“Indonesia Goes to School”

Past Events Posters

%d bloggers like this: