Pursuing Doctoral in A Tender Age? Why Not – A First Year Experience

Alhamdulillah, saya diberikan kesempatan untuk dapat melanjutkan sekolah di luar negeri di umur yang masih terbilang muda atau bahasa kerennya, tender age. Sebuah privilege yang sangat “wah” bagi saya jika mengingat masih tingginya angka putus sekolah dan rendahnya fasilitas pendidikan di Indonesia. Dan tentunya kesempatan ini adalah sebuah tanggung jawab yang tentunya harus dibayar dengan prestasi.

Belakangan ini, banyak sekali pilihan beasiswa pendidikan di luar negeri, seperti LPDP, Dikti, Fulbright, Gates Scholarship, Chevening, dll. Banyaknya pilihan beasiswa tersebut membuat banyak rekan yang sepantaran saya berkeinginan untuk melanjutkan pendidikan formalnya di luar negeri. Di dalam kelompok umur ini, tidak sedikit yang berkeinginan untuk melanjutkan ke program master dan doktoralnya hanya dengan sedikit jeda antarjenjang pendidikan (saya salah satunya :p). Semoga artikel ini bisa memberikan insight bagaimana rasanya bisa lanjut pendidikan doktoral tanpa melalui proses yang lama.

IMHO, hal yang pertama harus dipikirkan adalah gap pengalaman riset. Harus disadari master dan doktoral adalah dua jenjang yang jauh berbeda. Di tingkat master, tidak ada lagi materi dan guideline dari dosen. Kita mencari materi sendiri … dan pusing sendiri. Di tingkat ini kita juga dianggap setara dengan pembimbing sehingga kita ‘boleh’ (wajib sih kalau kata dosen pembimbing saya) untuk men-challenge ide dosen/rekan dan harus siap pula ketika ide kita di-challenge. Dosen hanyalah sebagai pengawas (supervisor) yang tugasnya memantau pekerjaan kita, apakah masih sejalan dengan tema riset atau tidak.

Nature dari kebanyakan riset adalah pekerjaan individual, pun jika bentuknya interdisciplinary research, palingan hanya melibatkan beberapa orang saja. Jadi, tidak berlebihan jika ada yang bilang, “Doing doctoral is a solitary work.”

So be prepared to spend hours in front of computer and doing exhaustive work in laboratory without no one knows what you are doing. Yeah, you are also gonna miss that moment when your knowledge were all quantified by exams and marks:p

Kedua, jika memang sudah memantapkan niat untuk lanjut studi, yang juga krusial adalah memilih kampus. Perlu diketahui, memilih kampus untuk jenjang doktoral sangat berbeda dibandingkan jenjang sarjana maupun master. Kualitas riset seringkali tidak berkorelasi positif dengan peringkat universitas. Mungkin masih banyak yang tidak percaya ketika saya bilang jurusan Electrical Power System di University of Manchester jauh lebih bagus dibanding Harvard dan Cambridge.

Selain research resource, hal penting lainnya terkait ‘kampus’ adalah karakter supervisor. Cocokkah style beliau dengan kalian? Kemudian, memilih kampus juga berkaitan dengan kehidupan sosial, seperti dukungan komunitas Indonesia (susah juga kan lagi sakit pas mau ujian, tapi ga ada yang bantu?) dan kecocokan funding dengan standar biaya hidup. Percuma juga dapat LOA dan pendanaan di kampus top tapi tiap bulan harus nombok? Kecuali memang sudah siap untuk bekerja sambilan sih.

Ketiga dan yang terpenting adalah surviving the first year. Konon ujian tahun pertama sama pentingnya dengan ujian tahun terakhir, karena di tahun pertama ini kita dinilai oleh penguji apakah layak untuk menjadi seorang Ph.D. candidate. Kriterianya–menurut penguji saya–sederhana saja: critical thinking, bisa setting-up research, dan bisa menjelaskan dengan baik research gap serta manfaat dari riset kita.

Jujur, di awal tahun pertama saya kesulitan untuk catch up dengan tuntutan riset dari dosen, simply karena gap pengalaman dan kemampuan saya dengan tuntutan dosen sangatlah kontras. Kebetulan tema riset saya saat ini jauh berbeda dengan proyek riset di jenjang master dan sarjana, sehingga butuh waktu untuk penyesuaian. But fear not, dosen di sini fair kok. Mereka memberikan waktu untuk kita belajar.

Menurut saya kunci untuk bisa survive di jenjang doktoral adalah konsisten, terbuka, dan jujur. Kalau memang tidak bisa ya frankly speak to your supervisor. Poin plus sistem pendidikan di sini adalah mau seperti apapun supervisor kita, dia pasti akan memberikan feedback ketika diminta (ya dimarahin atau dicengin dikit ga masalah lah, haha).

Alhamdulillah, berkat bantuan doa dan dukungan rekan-rekan, saya berhasil lolos first year exam. Selama tahun pertama saya juga ditawari untuk ikut bagian proyek internasional si dosen, dimintai tolong untuk menjadi teaching assistant, dan beberapa kali diminta brainstorming bersama rekan-rekan master maupun undergraduate di sini. Namun jujur, pencapaian di atas tadi masih kalah dengan nikmat bisa bertukar pikiran dan berkolaborasi dengan rekan-rekan sesama dari Indonesia yang sangat keren dan inspiring kisah hidupnya.

Jadi, worth the effort ga nih lanjut jenjang doktoral? Menurut saya, jawabannya sangat tergantung dengan motivasi. Percaya deh, kalau alasannya hanya karena tidak mendapat pekerjaan, trust me it will be such a waste of time and money. Untuk lanjut jenjang doktoral memang sudah harus tahu ke depannya mau seperti apa dan harus suka dengan risetnya. Bagi saya pribadi, banyak sekali faedah mengambil jenjang doktoral di waktu muda. Pikiran masih fresh, fisik masih kuat, dan ambisi masih tinggi (sok tau banget ya, haha).

Rian Fatah Mochamad, 2 Juni 2016

Editor: Bening Tirta Muhammad

Rian ManchesterRian Fatah Mochamad adalah seorang mahasiswa Doktoral tahun kedua di School of Electronic and Electrical Engineering (EEE), the University of Manchester. Di tengah kesibukannya, penerima beasiswa Presidential Scholarship LPDP ini masih menyempatkan diri untuk beraktivitas di Perhimpunan Pelajar Indonesia Greater Manchester (PPI GM) sebagai Sekretaris Jenderal.

 

 

Dikutip dari: Share My Stories #29, Pengajian Karisma Manchester

Comments are closed.

Books (Free)

“Indonesia Goes to School”

Past Events Posters

%d bloggers like this: