Kuliah di UK Bagi Penyandang Cacat

Banyak penyandang cacat ragu-ragu dan bimbang ketika dihadapkan pada pilihan harus mengambil sekolah di luar negeri; mungkin mereka membayangkan situasi dan tingkat kesulitannya sama dengan di Indonesia, padahal kondisi di UK jauh berbeda. Dengan kampus, dan fasilitas yang aksesibel, maka penyandang cacat dapat lebih mandiri dalam bidang akademik maupun kehidupan sosial. Ini adalah pengalaman saya selama studi MA Disability and Social Policy 2007-2008 dan Ph.D Accounting 2010 sampai sekarang. Tidak semua universitas melakukan prosedur yang sama seperti yang saya alami; namun setidaknya pengalaman ini bisa memberikan gambaran bagaimana pelayanan yang diberikan universitas kepada mahasiswa penyandang cacat.

Di UK, Disability and Discrimination Act 1995 mengharuskan institusi pendidikan (termasuk tingkat universitas) untuk menjunjung tinggi perbedaan (diversity) dan memberikan perlakukan yang sama (equity) bagi penyandang cacat, baik mahasiswa domestik (UK dan negara Eropa) maupun mahasiswa asing. Hal ini diterapkan dengan cara:

a)      Melakukan penyesuaian-penyesuaian (reasonable adjustment), misalnya dengan penyediaan sarana fisik yang aksesibel, lift, buku/materi elektronik, adanya Disability Support team, dll.

b)      Melakukan upaya-upaya antisipasi (anticipatory duty) dengan melakukan evaluasi dan penilaian (assessment) tentang jenis kecacatan dan mendiskusikan jenis bantuan/support yang dapat diberikan.

c)       Mendorong mahasiswa untuk mengungkapkan (disclose) kecacatannya, namun tetap menjaga kerahasiaan (confidentiality) identitas mereka.

d)      Mengimplementasikan dalam praktek (good practice). Dukungan/bantuan kepada penyandang cacat tidak hanya dilakukan oleh staf dari Disability Service, namun semua staf pengajar, administrasi, perpustakaan dan semua bagian dari universitas terlibat di dalamnya.

Lebih penting lagi, universitas UK sudah menerapkan pendidikan inklusif (inclusive education) sehingga tidak ada perbedaan kelas antara mahasiswa penyandang cacat dan bukan penyandang cacat; mereka belajar di ruang yang sama; staf pengajar yang sama; waktu dan materi yang sama, dengan beberapa penyesuaian-penyesuaian yang memungkinkan kebutuhan mahasiswa terakomodasi tanpa ada yang merasa terdiskriminasi, misalnya teman-teman tuna netra biasanya memperoleh materi/hand out yang diajarkan hari ini beberapa hari sebelumnya, dll.

  1. Tahap persiapan

Sebelum mendaftar, sebaiknya anda melakukan kontak dengan Disability Service yang selalu ada di setiap universitas untuk menjelaskan tentang jenis kecacatan anda dan mendiskusikan hal-hal yang ingin anda ketahui, misalnya:

–          Apakah bangunan dan lingkungan kampus dapat diakses? (catatan: meskipun secara Undang-Undang seluruh fasilitas harus menyediakan akses bagi penyandang cacat, namun beberapa tempat tidak dapat diakses, misalnya ruang dosen. Namun, para staf akan mengupayakan agar pertemuan/kegiatan bisa dilakukan di tempat yang dapat diakses semua orang).

–          Apakah ada fasilitas-fasilitas khusus bagi penyandang cacat? (misalnya komputer yang dilengkapi dengan software yang dapat dibaca, printer Braille, meja yang ketinggiannya dapat disesuaikan dengan tinggi kursi roda, akomodasi yang sudah di-adaptasi, dll.).

–          Apakah ada mahasiswa penyandang cacat sebelumnya yang mengambil jurusan yang sama?

–          Bentuk bantuan/support seperti apa yang diberikan universitas? Misalnya, apakah ada pembaca/reader yang membantu tunanetra, apakah ada penerjemah bahasa isyarat/interpreter, dll.

–          Siapa yang akan membantu mengorganisir bantuan/support bagi penyandang cacat?

–          Apakah ada akomodasi yang sudah disesuaikan dengan kebutuhan penyandang cacat? Misalnya untuk pengguna kursi roda biasanya membutuhkan ramp, ruangan (kamar, kamar mandi dan dapur) yang lebih besar, penyandang tunarungu dilengkapi dengan lampu-lampu alarm, dll.

  1. Tahap pendaftaran

Ketika anda sudah mantap dan yakin dengan pilihan anda di salah satu (atau beberapa) universitas, maka lakukan pendaftaran secara formal. Setiap formulir pendaftaran (sesuai dengan kentuan yang ada di UCAS = University and College Admission Service) mengharuskan adanya point yang meminta informasi apakah anda memiliki kecacatan dan jenis kecacatan apa yang anda alami (biasanya kita hanya diminta menandai/memberikan tick mark).

Pastikan anda mengungkapkan jenis kecacatan anda; jangan pernah ada kekuatiran universitas akan menolak pendaftaran karena anda memiliki kecacatan, justru informasi ini sangat berguna bagi universitas untuk menentukan jenis bantuan/support yang akan diberikan guna menunjang proses belajar nantinya.

Biasanya, ketika sudah mendaftar (dan mengungkapkan/declare kecacatan anda), pihak universitas, dalam hal ini Disability Service akan menindaklanjuti komunikasi dengan mengirimkan semacam kuesioner yaitu Disability Related Support Requirement (DRSR) dan permintaan konfirmasi untuk memberikan informasi kecacatan anda kepada pihak terkait sehubungan dengan support yang akan diberikan (Disability Data Confidentiality=DDC).

DRSR ini lebih kepada self-assessment yang berisi pertanyaan mengenai:

–          Data pribadi, jenis kecacatan yang kita miliki dan bagaimana kecacatan itu akan mempengaruhi kemampuan/kapasitas kita dalam proses belajar.

–          Apa saja yang anda perlukan dalam bidang akademik untuk menunjang proses belajar, misalnya jenis/format apa yang paling efektif untuk anda (bisa Braile atau electronic book), bagaimana proses kita mengikuti pelajaran, apakah kita memerlukan bantuan orang lain (note taker) untuk mencatatkan materi yang diajarkan, bagaimana kita bisa menjangkau lokasi/tempat kuliah, apakah kita bisa melakukan sendiri atau dengan bantuan orang lain.

–          Apakah anda memerlukan adaptasi khusus untuk tempat tinggal kita, misalnya adanya ramp, kamar yang dilengkapi bantal getar (biasanya untuk tunarungu), dll.

–          Dukungan/bantuan apa saja yang diperlukan untuk aktivitas anda sehari-hari, misalnya apakah anda memerlukan bantuan orang lain untuk memasak, belanja, mencuci pakaian atau untuk hal-hal lain yang sifatnya lebih personal (membantu ke kamar mandi, dll.).

–          Bantuan medis/konseling/terapi apa saja yang anda perlukan, misalnya apakah ada obat-obat tertentu yang kita konsumsi, bagaimana cara memasukkan obat tersebut (suntik, minum, dll.).

Sedangkan DDC lebih mengacu kepada Data Protection Act yang mengharuskan setiap lembaga untuk melindungi data/informasi pribadi siapapun lembaga hanya diperkenankan memberikan informasi/data pribadi kepada pihak lain dengan persetujuan/ijin pemberi data. Isi DDC hanya menyetujui bahwa pihak universitas/Disability Service akan memberikan informasi tentang kondisi anda kepada, misalnya International Office (karena anda mahasiswa asing), sponsor/pemberi beasiswa/pemberi bantuan lain, Estate Service (departemen yang bertanggung jawab untuk penyediaan sarana yang aksesibel di kampus), Information System Service (departemen yang bertanggung jawab untuk penyediaan aksesibilitas informasi/network) dan bagian-bagian lain yang terkait dengan dukungan/support bagi anda selama masa studi.

  1. Informasi tentang biaya-biaya pelayanan

Pada saat kita berkomunikasi dengan Disability Service, kita akan diminta informasi mengenai sponsor/siapa yang membiayai seluruh biaya kuliah kita; hal ini terkait dengan biaya-biaya pelayanan yang diberikan, terutama bagi mahasiswa asing karena tidak dapat mengakses DSA (Disability Student Allowance).

Disability Service di setiap universitas mempunyai tugas dan tanggung jawab menjamin mahasiswa penyandang cacat mendapat perlakuan yang sama selama masa studi dengan cara mengkoordinasi dukungan/support yang diberikan kepada mereka. Misalnya, mereka memiliki staf atau jaringan yang memiliki kompetensi sebagai note taker (mencatat materi kuliah selama proses berjalan), personal assistant, interpreter (penerjemah bahasa isyarat) dan lain-lain. Bagi mahasiswa UK, mereka mendapat DSA berupa sejumlah dana yang diberikan negara guna membantu penyandang cacat selama pendidikan, misalnya membiayai note taker, interpreter, dll. Namun, bagi mahasiswa asing, biaya-biaya ini harus diantisipasi sejak awal sehingga tidak ada pembebanan biaya di tengah perjalanan. Jika anda dibiayai sponsor, maka anda harus meminta informasi biaya-biaya pelayanan ini kepada Disability Service. Biasanya biaya pelayanan akan berbeda setiap jenis pelayanan dan mereka sudah memiliki standar tarif tersendiri dalam bentuk tarif per jam. Misalnya, personal assistant untuk kampus (meminjam buku, mengantar dan menjemput dari kampus ke rumah) dan personal assistant untuk urusan domestik (mencuci, belanja, masak) £ xxx/jam, note taker £ yyy/jam, interpreter £ zzz/jam dan seterusnya. Selanjutnya, anda diminta untuk menghitung rata-rata kebutuhan per hari, per minggu dan per bulan sehingga Disability Service akan mengalokasikan staf sesuai dengan kebutuhan anda dan membebankan biaya sebesar jasa yang diberikan.

Misalnya: anda membutuhkan note taker selama 4 jam per minggu, personal assistant untuk membantu di kampus, perpustakaan, dll., setiap hari selama 4 jam; personal assistant untuk kebutuhan domestik 2 jam per hari. Maka berdasarkan tarif yang ada, kebutuhan biaya anda adalah sebagai berikut:

Jenis pelayanan

Kebutuhan per hari (jamX tarif)

Kebutuhan per bulan (jamX tarif)

Personal assistant (4 jam di kampus, 2 jam di domestik)

6 jam X £ xxx

6 jam X 25 hari X £ xxx

Note taker (4 jam per minggu)

4 jam X 4 minggu X £ yyy

£ mmmmm

Sesuai dengan kebutuhan anda, maka sesuai perhitungan di atas, Disability Service akan membebankan biaya sebesar £ mmmm/bulan kepada anda/sponsor anda. Mengingat bahwa biaya ini sangat besar, maka diskusikan sejak awal kepada sponsor anda jika anda benar-benar memerlukan dukungan/bantuan untuk memperlancar studi anda.

Pengalaman saya pribadi, saya tidak pernah menggunakan jasa-jasa dari Disability Service; juga beberapa teman tunanetra juga hanya menggunakan jasa mereka selama masa orientasi (1-2 minggu), kemudian kami melakukan semuanya secara mandiri.

  1. Persiapan akomodasi

Setelah mendaftar dan mendapat respon dari Disability Service, kita juga akan dihubungi oleh pihak Accommodation Office (jika tidak, anda harus proaktif untuk menghubungi mereka) untuk mendiskusikan kebutuhan akomodasi sesuai dengan keterbatasan anda. Mereka akan memberikan semacam kuesioner yaitu Disability-Related Accommodation Requirement yang isinya pertanyaan mengenai:

–          Data pribadi

–          Jenis kecacatan

–          Penjelasan mengenai adaptasi/penyesuaian akomodasi yang kita perlukan; misalnya untuk pemakai kruk/kursi roda untuk kamar mandi lebih baik menggunakan shower daripada bath-tub, kamar mandi yang ukurannya lebih besar agar kursi roda dapat masuk dan keluar dengan leluasa, dll.

–          Pertanyaan-pertanyaan yang terkait dengan kebutuhan secara umum (biasanya mereka punya daftar fasilitas sehingga kita hanya menandai mana saja yang kita perlukan), misalnya kebutuhan ruangan yang lebih besar, perlu/tidaknya disediakan makanan (self catering atau catered resident), bantal getar, lampu alarm kebakaran, fasilitas untuk anjing, dll.

Biasanya kampus memiliki akomodasi (baik di dalam kampus maupun di luar) dan mereka akan memberikan informasi detail mengenai akomodasi mana saja yang aksesibel (bisa dipakai untuk penyandang cacat). Dibandingkan dengan akomodasi privat (akomodasi yang dikelola di luar kampus, baik oleh agen properti atau pemilik/landlord langsung), akomodasi kampus biasanya lebih mahal. Namun, pengalaman saya, akomodasi privat jarang yang aksesibel dan akomodasi kampus lebih mudah prosesnya dan lebih aksesibel. Sayangnya, beberapa unversitas tidak memperbolehkan akomodasi kampus (yang aksesibel) untuk tinggal bersama keluarga (baik suami/istri dan anak) sehingga anda harus mencari akomodasi privat jika anda bersama keluarga.

Apapun yang anda pilih, baik akomodasi kampus maupun privat, pastikan bahwa anda sudah mendapatkan akomodasi yang sesuai dengan kebutuhan anda sebelum berangkat/sampai di UK karena akomodasi sangat mempengaruhi kelancaran studi.

  1. Tahap awal studi

Sebelum memulai studi, anda biasanya akan diminta untuk bertemu dengan staf dari Disability Service untuk mendiskusikan lebih lanjut kebutuhan anda berdasarkan informasi awal (dari formulir DRSR di atas). Misalnya anda membutuhkan personal assistant (orang yang akan membantu anda), maka berapa lama anda membutuhkan mereka (rata-rata per hari), dalam kondisi apa (apakah hanya di kampus, ke perpustakaan atau untuk urusan domestik), bagaimana prosesnya, bagaimana prosedur pelayanan, termasuk bagaimana pembayaran biaya pelayanan; semuanya didiskusikan di sini.

  1. Fasilitas-fasilitas di kampus

Pada umumnya, seluruh gedung dan fasilitas yang ada di kampus aksesibel bagi penyandang cacat, misalnya lift, automatic door, di perpustakaan bisanya ada beberapa adjusted table (meja yang ketinggiannya dapat diatur sesuai ketinggian kursi roda) dan komputer+scanner yang dilengkapi software yang bisa berbicara (Jaws), disabled toilet, dll.

Selain fasilitas fisik, pelayanan lain yang diberikan antara lain mencarikan buku di perpustakaan. Jadi, anda tidak perlu bingung mencari buku-buku di rak-rak; cukup anda mencatat nomor dan judul buku dari katalog, kemudian datang ke perpustakaan, maka petugas akan mencarikan buku untuk anda. Jika anda memerlukan materi perkuliahan/hand out dalam format yang berbeda (misalnya Braille atau cetak dalam ukuran besar) atau dalam bentuk electronic copy buku (atau beberapa bagian dari buku) anda juga bisa meminta pelayanan ini kepada dosen yang bersangkutan atau Disability Service. Jika diperlukan, mahasiswa penyandang cacat bisa meminta perpanjangan waktu (extended time) ketika ujian atau batas akhir pengumpulan tugas dengan persetujuan dosen mata kuliah yang bersangkutan.

  1. Tantangan-tantangan (barriers) yang dihadapi

Meskipun banyak fasilitas mendukung proses belajar anda, tantangan-tantangan selalu ada, misalnya:

–          Adaptasi budaya, baik bahasa, kebiasaan maupun makanan seringkali akan kita hadapi di negara asing. Sebaiknya, sebelum anda datang ke UK, anda sudah menjalin komunikasi dengan warga Indonesia atau Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) yang ada di universitas atau kota yang anda tuju sehingga ada memiliki referensi jika anda mengalami kesulitan.

–          Kesulitan beradaptasi dengan sistem pendidikan di UK yang menuntut kemandirian dan keaktifan melalui seminar dan diskusi, juga tata cara penulisan ilmiah (essay, disertasi/thesis) dan ujian yang berbeda dengan Indonesia.

–          Masih adanya ketergantungan terhadap bantuan orang lain, misalnya jika sakit, anda pasti membutuhkan bantuan orang lain; hal ini sedikit banyak akan mengganggu konsentrasi anda dalam belajar.

Sekalipun penuh tantangan, belajar di UK bagi penyandang cacat bukan hal yang mustahil. Ada banyak hal baru yang kita temui, selain orang-orang yang sudah terbiasa dengan penyandang cacat dan tidak melihat anda sebagai orang asing dan aneh dari planet; anda akan bisa merasakan bagaimana kemandirian anda temukan bila fasilitas umum dapat diakses penyandang cacat, mulai dari bus, kereta api, kapal feri, gedung museum, supermarket, bank dan bangunan lain menyediakan ramp/lift, toilet, dll.

Daftar Pustaka:

Applying from overseas. The University of Nottingham. [online]. [Accessed 6th May 2011]. Available at: <http://www.nottingham.ac.uk/jobs/applyingfromoverseas/learning-and-teaching/disability-inclusive-teaching.aspx>

Student with disabilities. UCAS. [online]. [Accessed  6th May 2011]. Available at: <http://www.ucas.com/students/wheretostart/disabledstudents>

Wuri Handayani, 6 Mei 2011
Wuri HandayaniWuri Handayani mengambil Master Jurusan MA Disability and Social Policy di School of Sociology and Social Policy, University of Leeds tahun 2007-2008 dengan beasiswa dari the Chevening Award. Sejak September 2010 hingga saat ini, Wuri melanjutkan Ph.D Accounting di School of Business, University of Hull dengan beasiswa dari the World Bank.

Comments are closed.

Books (Free)

“Indonesia Goes to School”

Past Events Posters