Berita

Ameng Inggrisan

PERGI ke Eropa berarti pergi ke masa lalu. Republik Indonesia lebih dulu ketimbang Kerajaan Inggris dalam urusan menyongsong matahari. Kami terbang dari Cengkareng sekitar jam 12 siang, tiba di Heathrow sekitar jam sembilan malam, 23 November lalu. Saya merasa Kamis hadir dua kali. Kamis malam di Inggris adalah Jumat pagi di Indonesia. Perjalanan 14 jam seperti memperpanjang umur.

Dyka Sudaryanto, Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) London, dan kawan-kawan menyambut rombongan di tempat kami menginap, di Kensington. Pencinta bola ini meninggalkan Jakarta, tempat asalnya, sejak masih duduk di SMP. Sekarang ia mempelajari ilmu olahraga (sports science). Kelak, ia bisa jadi pelatih sepak bola.

Esok paginya, sambil menyantap telur mata sapi dan tomat goreng yang dibelah dua, saya membaca halaman opini The Guardian. Seorang kolumnis mengamati pudarnya kota-kota kecil (small towns), dan pesatnya pertumbuhan kota-kota besar (big cities). Anak-anak muda meninggalkan kota kecil, masuk universitas, dan tidak kembali ke tempat asal mereka. Seketika saya teringat cerpen “Pacul” karya mendiang Caraka. Cerpen Sunda itu menggambarkan putusnya tradisi bertani. Anak-anak muda meninggalkan desa, tak mau melanjutkan kegiatan orang tua mereka. Pacul berkarat, tak diangkat.

Menjelang siang, kami pergi ke Kedutaan Besar RI di Westminster. Kantornya konon bekas markas MI5, dinas rahasia Inggris. Gordon Brown, politisi Partai Buruh yang kelak jadi Perdana Menteri Inggris, meresmikan pembukaan kembali gedung yang disebut Trevelyan House itu pada 2 Juli 2003. Letaknya di 30 Great Peter Street, beberapa puluh meter dari tempat penampungan kaum tunawisma.

Di kantor KBRI kami melaksanakan salat Jum’at. Khatib sekaligus imamnya adalah Aminuddin Azis, Atase Pendidikan dan Kebudayaan. Profesor Aminuddin adalah putra Ciamis dan ahli linguistik yang sebelumnya mengajar di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Khutbahnya singkat, mengingatkan jemaah agar bersungguh-sungguh melaksanakan tugas. Soal pencapaian, katanya, serahkan saja kepada Allah.

Seusai Jum’atan, agenda pokok dimulai. Ketua rombongan kami, Eddy Jusuf, didampingi oleh Irma Rachmawati dari Paguyuban Pasundan, bertemu dengan Duta Besar Rizal Sukma beserta istri, Wakil Kepala Perwakilan Adam Mulawarman, dan Aminuddin Azis.

Pak Eddy dan Bu Irma adalah bagian dari rombongan Paguyuban Pasundan yang mendapat undangan dari KBRI London untuk mengadakan pertunjukan kesenian Sunda dan seminar mengenai alam dan budaya Sunda. Rombongan terdiri atas 19 orang, meliputi musisi dan penyanyi grup arumba dari SMA 2 Pasundan Bandung dan penyanyi Rika Rafika beserta tim manajemennya. Saya sendiri, bersama Prof. Adjat Sudradjat dari Universitas Padjadjaran, kebagian tugas mengisi agenda seminar.

Petang hari banyak orang panik. Tersiar kabar ada suara ledakan di Oxford Street, kawasan yang ramainya bukan main. Orang banyak belingsatan, berpencar meninggalkan pusat keramaian. Jalur kereta bawah tanah seketika ditutup. Berjibun orang di sekitar gerbang menuju rel kereta. Mereka terpaksa pulang ke tempat masing-masing dengan berjalan kaki. Menurut BBC, polisi tidak menemukan hal yang mencurigakan di tempat kejadian perkara. Alhamdulillah, dunia baik-baik saja.

Pada 25 November, selagi anggota rombongan yang lain berlatih menjelang pementasan, kami berputar-putar di London, sebelum berkunjung ke Oxford.

I hate London. Too much traffic,” ujar sopir bus yang kami tumpangi.

Saya sih senang saja, celingukan ke kiri dan kanan kayak Kabayan sedang saba kota. Perjalanan ke Oxford sekitar dua jam, melewati jalan lempang, tegalan tempat biri-biri merumput, dan rumah-rumah berbatu bata merah dengan cerobong asap di pucuknya. Kemacetan lalu-lintas di gerbang kota dapat dimaafkan dengan penglihatan baru bagi turis seperti saya.

Pada pandangan pertama, Oxford menghadirkan panorama kota kecil yang menawan. Jalan-jalanya tidak begitu lebar. Rumah-rumah tampak mungil. Sepeda tampak di mana-mana. Panorama kota juga menghadirkan kuda, gereja, dan beberapa perahu di tepi danau dengan tempat minum kopi di sekitarnya.

Lama saya ingin mengunjungi kota ini, dan baru sekarang mendapat kesempatan. Minat saya tertuju ke Perpustakaan Bodleian di sekitar kompleks bangunan antik tempat sekian college berhimpun dalam lingkungan Universitas Oxford. Setahu saya, di perpustakaan inilah naskah Sunda Kuna dari abad ke-17, yang bercerita tentang perjalanan Bujangga Manik, diketahui keberadaannya oleh mendiang J.J. Noorduyn. Sayang, hari sudah sore, dan kami tidak bisa berlama-lama di situ. Kami segera kembali ke London.

Esok harinya, 26 November, penyair Zen Hae mengontak saya melalui WhatsApp dari Cheska. Tak lama kemudian, cerpenis A.S. Laksana menelepon saya dari sebuah kota kecil di Finlandia. Karena geografi saya amat buruk, tak dapat saya bayangkan seberapa jauh tempat kedua teman itu dari Inggris. Keduanya sudah sekian bulan meninggalkan Indonesia, dan alhamdulillah tidak ada secuil pun tanda-tanda mereka sedang mencari masalah di negeri orang.

Malam harinya, di gedung pertunjukan di dalam kampus Imperial College, tergelar acara utama: pementasan kesenian Sunda dengan tajuk “Pasundan Discovery”. Sekitar 600-an orang, banyak di antaranya mahasiswa Indonesia, hadir. Duta Besar Rizal Sukma beserta jajaran KBRI London jadi tuan rumah bersama Pak Eddy Jusuf dan kawan-kawan. Beberapa perwakilan negara sahabat juga terlihat. Teman duduk saya berbisik. Katanya, di antara hadirin ada pula Kartika Sari Dewi Soekarno.

Di atas panggung grup arumba SMA 2 Pasundan berkolaborasi dengan Dharma Wanita KBRI London, memainkan musik bambu yang mengiringi beberapa lagu, baik lagu Sunda maupun lagu Inggris. Elan menepuk kendang, Herman Firdaus memukul gambang. Icha Annisaa dari Bandung melantunkan beberapa lagu Barat. Rika Rafika dari Banjaran melantunkan beberapa lagu Sunda, antara lain Bambung Hideung dan Banondari seraya mengajak hadirin ikut menari.

Pementasan digelar lagi di kantor KBRI London esok harinya seusai sesi seminar. Khalayaknya antara lain warga setempat, terutama belasan warga Inggris yang mempelajari gamelan Jawa. Setelah rangkaian acara terselenggara, saya ikut merasa lega. Kalaupun masih ada beban, paling beban rutin saja, yakni menulis kolom buat “Pikiran Rakyat” di hotel dan dalam perjalanan pulang menuju bandara Heathrow.

Pulang ke Indonesia berarti pergi ke masa depan.***

Oleh: Hawe Setiawan (Budayawan, Kolumnis Pikiran Rakyat)

Sumber: http://www.pikiran-rakyat.com/kolom/2017/11/29/ameng-inggrisan-414759

Iklan

Diskusi

Komentar ditutup.

Buku (Gratis)

%d blogger menyukai ini: