Berita

Setan Jawa Menutup Festival Gamelan di London

Oleh: Professor E Aminudin Aziz

Kabar tentang antusiasme kuat masyarakat Inggris terhadap musik tradisional Indonesia, gamelan, tampaknya bukan hanya isapan jempol. Ini terbukti dari luasnya sambutan mereka terhadap acara Festival Gamelan Internasional yang diselenggarakan di London pada 6-10 September 2017 lalu. Pada setiap mata acara yang digagas Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) Republik Indonesia bekerja sama dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) London itu para peserta selalu menyesaki ruangan yang tersedia.

Kemdikbud menggagas acara Festival Gamelan ini dengan tujuan untuk menelusuri lalu menuliskan sejarah awal mula keberadaan seni gamelan di Inggris Raya. Dengan demikian, seni tradisional milik asli bangsa Indonesia ini dapat dicatatkan sebagai salah satu sumbangsih bangsa Indonesia kepada perkembangan musik-musik dunia dan peradaban manusia pada umumnya.

Agenda Festival dimulai dengan lokakarya menabuh aneka alat musik gamelan irama Yogyakarta. Acara ini dilaksanakan di Southbank Royal Festival dan bertindak sebagai pelatih adalah Sunardi, seorang penggamel asal Yogya yang sudah banyak dikenal di kalangan seniman gamelan. Selama dua hari, para peserta yang rata-rata sudah mahir bermain gamelan itu diberikan asupan roh baru untuk memainkan alat musik itu. Beragam repertoire disajikan dengan sentuhan baru. Sophie Ransby, manajer musik di Southbank menyatakan bahwa kehadiran pelatih gamelan dalam lokakarya ini sangat membantu para peserta untuk meningkatkan kemampuan bermain gamelan ke taraf yang lebih baik. “Sehingga kita tidak merasa puas dengan kemampuan saat ini, padahal masih bisa lebih baik lagi, dengan arahan pelatih yang hebat”, ujar Sophie yang fasih berbahasa Indonesia dan mahir memainkan rebab ini.

Suasana bertambah meriah ketika festival memasuki hari ketiga dan keempat. Para maestro gamelan dari Yogyakarta hadir di School of Oriental and African Studies (SOAS), University of London untuk berbagi keterampilan dan bermain bersama para peserta. Kehadiran Rahayu Supanggah, Sumarsam, Al Suwardi, Suraji, Peni Candra Rini, dan kawan-kawan sungguh-sungguh menarik minat warga Inggris untuk hadir di festival. Banyak peserta yang datang dari luar kota London, seperti Oxford, Bristol, Southampton, bahkan dari York. Nama-nama itu telah lama mereka kenal. “Bisa bertemu dan bahkan bermain dengan mereka secara langsung, benar-benar merupakan kehormatan bagi kami para peminat musik gamelan di sini”, ujar Isabelle Carre yang sudah 30 tahun bermain dan mengajarkan gamelan di Inggris. Pada kesempatan lokakarya hari ketiga dan keempat ini, para maestro gamelan menyajikan materi tentang bermain rebab, kendang, gender, bonang, dan terbang secara lebih apik dengan kompleksitas tinggi. Para peserta berbaur dalam permainan yang mengasyikkan bersama dengan para maestro.

Garin Nugroho sebagai narasumber di diskusi “Story across Media”. (Dok.: Kantor Atdikbud)

Festival gamelan di SOAS juga menyelenggarakan diskusi mendalam tentang perfilman Indonesia dengan mengangambil topik Story across Media. Bertindak sebagai panelis sutradara berkarakter Garin Nugroho, kritik film terkenal dari Inggris Tony Ryan, dan peneliti sejarah dan juga kurator dari Singapura Sadiah Boonstra. Dalam diskusi panel itu terungkap bagaimana proses kreatif yang dilakukan Garin Nugroho dalam setiap film yang digarapnya. “Membuat film bagaikan menanam benih. Jenis buah apa dengan rasa seperti apa yang ingin diraih, itu yang mesti jadi pedoman awalnya. Dan saya selalu ingin menanam jenis buah dengan cita rasa yang berbeda dari yang sudah ada”, jelas Garin dalam diskusi itu.

Sementara itu, Tony Ryan, yang sudah lama menjadi pemerhati dan kritikus film -film dunia termasuk karya Garin Nugroho menyatakan bahwa kreativitas Garin dalam setiap filmnya seolah tidak bisa diduga dan hal itu membuat daya tarik film Garin menjadi luar biasa. Tony menyatakan “Garin termasuk sedikit sutradara di dunia, apalagi di Asia, yang memiliki kreativitas tersebut. Apalagi kalau dikaitkan dengan karyanya dalam Setan Jawa yang akan dipertunjukan kemudian. Ini pasti sesuatu yang luar biasa”.

Sejarah perkembangan gamelan merupakan bagian dari perkembangan peradaban manusia itu sendiri. Ini yang menjadi catatan khusus dari penulis dan peneliti sejarah seni dan manusia Indonesia asal Belanda yang kini bermukim di Singapura, Sadiah Boonstra. Dia menyatakan bahwa untuk bisa mengkaji sejarah gamelan secara utuh, maka itu tidak bisa dipisahkan dari sejarah pergaulan dalam masyarakat Indonesia, khususnya Jawa, yang menjadi akar pertumbuhan gamelan itu sendiri. “Gamelan tumbuh di masyarakat Jawa dan Indonesia pada umumnya sebagai bagian dari peradaban manusia Indonesia sendiri. Kekhasan dalam gamelan berada pada bagaimana karakter kegotong-royongan masyarakat Indonesia tercermin dalam cara bermain gamelan itu sendiri. Dan itu menjadi ciri khas gamelan”, papar Sadiah, yang juga mengalir darah Indonesia dalam dirinya.

Sambutan Duta Besar Rizal Sukman di acara pemutaran film Setan Jawa. (Dok.: Kantor Atdikbud)

Pada sambutan saat pagelaran di Festival Gamelan itu, Dubes Rizal Sukma menyatakan bahwa diplomasi yang diemban oleh Pemerintah Indonesia melalui KBRI London telah banyak dibantu oleh keberadaan program seni, budaya, dan pelajaran bahasa Indonesia yang ditawarkan oleh KBRI kepada publik Inggris. Dengan demikian, pemahaman warga Inggris tentang Indonesia yang lebih baik muncul dari interaksi yang terjadi secara intensif melalui program seni dan budaya ini. Sebagai negara yang tidak terlalu dikenal oleh masyarakat Inggris pada umumnya, maka sulit bagi kita untuk hanya gembar-gembor dan bersaing dengan anggota-anggota Persemakmuran, misalnya. Oleh karena itu, program seperti gamelan dan seni budaya lainnya di KBRI bisa menjadi jembatan yang bisa menghubungkan kedua negara dalam jalinan kerja sama yang lebih baik lagi. “Oleh karena itu, KBRI mengundang masyarakat Inggris untuk mengenal lebih banyak lagi seni dan budaya Indonesia khususnya dan bangsa Indonesia pada umumnya, melalui beragam program yang ada pada kami”, tutur Dubes Rizal menutup sambutannya.

Selain memberikan sambutan tentang diplomasi budaya yang dijalankan di Kemdikbud, Dirjen Kebudayaan dalam pengantar pidatonya menyatakan bahwa festival gamelan di London merupakan pembuka rangkaian festival gamelan sedunia yang akan diadakan di Solo bulan Agustus 2018. Dirjen Hilmar Farid mengatakan bahwa “festival di Solo 2018 akan menjadi forum kembalinya para musisi gamelan seluruh dunia ke rumah aslinya di Indonesia”. Oleh karena itu, Dirjen Hilmar mengundang para musisi gamelan yang ada di seluruh dunia untuk turut serta dalam agenda besar tahun depan itu. Pada kesempatan yang sama, Dirjen Kebudayaan juga menyerahkan penghargaan Kemdikbud kepada tiga orang perintis seni gamelan di Inggris, yaitu Neil Sorrell, Alec Roth, dan Anne Hunt. Mereka merupakan tokoh-tokoh yang ada di balik perkembangan musik gamelan di Inggris raya yang hingga ini telah memiliki lebih dari 100 kelompok pemusik gamelan itu. Jasa mereka selama lebih dari 40 tahun memulai menanamkan benih-benih kecintaan terhadap musik gamelan kini telah menunjukkan hasilnya yang luar biasa. “Kita patut berterima kasih kepada mereka bertiga ini, karena telah membawa musik asli Indonesia ke panggung masyarakat Inggris, dan telah berkembang serta dicintai luar biasa”, ungkap Hilmar menutup sambutannya.

3 perintis gamelan di UK: (kiri-kanan) Dr Alec Roth, Dr Neil Sorell dan Anne Hunt. (Dok.: Kantor Atdikbud)

Sementara itu, Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud) di KBRI London, E Aminudin Aziz, menyatakan bahwa festival gamelan di London ini sebetulnya merupakan inisiatif untuk menggugah kembali semangat para musisi gamelan di Inggris Raya. “Sudah agak lama di Inggris ini tidak ada kegiatan gamelan yang melibatkan banyak orang”, papar Aminudin. Hal ini tampaknya terkait erat dengan kurangnya program yang menyajikan interaksi langsung antara mereka yang belajar gamelan di Inggris dengan para ahli musik gamelan yang ada di Indonesia. Beberapa tahun lalu ada program yang mengundang ahli gamelan di Inggris, namun sampai lebih dari sepuluh tahun berhenti tanpa alasan yang jelas. “Oleh karena itu, kami di KBRI membuat program yang memperoleh dukungan juga dari Kemdikbud, yang benar-benar akan menjadi pembangkit semangat yang sebetulnya sudah hampir padam. Festival gamelan inilah salah satunya di samping program-program residensi yang sudah berjalan sejak awal tahu 2017 ini”, jelas Aminudin.

Festival gamelan di London dipuncaki dengan pertunjukan film bisu hitam putih Setan Jawa karya teranyar Garin Nugroho dengan iringan langsung musik gamelan karya komposer Rahayu Supanggah. Film berdurasi 78 menit itu benar-benar memukai para penonton yang memadati Cadogan Hall, yang berdaya tampung lebih dari 900 tempat duduk itu. Hujan yang mengguyur kota London sejak Minggu siang ternyata tidak menyurutkan para penikmat film dan musik gamelan untuk datang ke salah satu tempat pertunjukan orkestra terhebat di kota London itu. Apalagi pada film Setan Jawa ini bertemu dua maestro pada bidang masing-masing: Garin Nugroho pada film dan Rahayu Supanggah pada musik gamelan. Nama besar mereka seolah menjadi jaminan kepuasan bagi para penonton yang mayoritas orang Inggris itu, dan dihadiri oleh Duta Besar Republik Indonesia untuk Inggris Raya dan Irlandia, Rizal Sukma beserta Ibu, dan Dirjen Kebudayaan Kemdikbud Hilmar Farid.

(Dok.: Kantor Atdikbud)

Pertunjukan Setan Jawa dengan iringan gamelan telah menghipnotis para penonton untuk tetap hening dan tidak beranjak dari tempat duduknya. Segmen demi segmen dalam film berpadu secara apik dengan setiap bunyi perangkat gamelan dan lantunan tembang para pesinden. Di akhir pertunjukan, para penonton sontak berdiri sambil riuh bertepuk tangan berkepanjangan sebagai isyarat adanya kepuasan dan unjuk penghargaan karena telah disuguhi sebuah tontonan apik dan menarik yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dosen senior musik gamelan di Universitas York Neil Sorrell yang malam itu menerima penghargaan dan Alec Roth yang merupakan etnomusikolog pertama yang memperkenalkan gamelan menyatakan bahwa garapan film Setan Jawa dengan iringan gamelannya sungguh sangat istimewa. “Walaupun saya musisi dan juga dosen gamelan yang sudah banyak pengalaman, saya dibuat terkagum-kagum dengan pertunjukan malam ini. Tidak pernah selama hidup saya menyaksikan kombinasi antara film dan musik sehebat ini”, ujar Neil seraya diamini oleh Alec ketika ditemui di akhir acara.

Iklan

Diskusi

Komentar ditutup.

Buku (Gratis)

“Indonesia Goes to School”

%d blogger menyukai ini: