News

Rasa Indonesia dalam ISIC 2016

Oleh: E. Aminudin Aziz/Atdikbud KBRI London

whatsapp-image-2016-10-04-at-16-42-26-2Indonesian Scholar International Convention (ISIC) kembali digelar oleh Persatuan Pelajar Indonesia di Inggris Raya/United Kingdom (PPI UK) pada 1-2 Oktober 2016 bertempat di University of Birmingham. Penyelenggaraan kali ini adalah yang ke-16 kali, dengan mengambil tema besar Towards the Achievement of Indonesian Sustainable Development Goals (SDGs). Dengan tema ini, ada 9 sub-tema yang membahas masalah-masalah yang terkait dengan kesehatan, pendidikan, manajemen infrastruktur, keuangan dan sebagainya. Dari 307 abstrak yang diterima, 201 dinyatakan lolos administrasi, dan 82 di antaranya ditelaah oleh tim panel ahli. Hanya 33 makalah yang kemudian masuk dan dinyatakan pantas untuk disajikan pada forum yang selalu menjadi kebanggaan PPI UK selama 16 tahun terakhir ini.

Dari makalah-makalah yang disajikan itu, terasa betul rasa kesadaran para mahasiswa akan pentingnya mereka memikirkan pembangunan tanah air Indonesia tercinta, Indonesia. Kasus-kasus yang mereka angkat memang menyangkut seluk-beluk permasalahan pembangunan Indonesia, seraya mereka juga tidak lupa menawarkan model penyelesaian terhadap setiap masalah yang mereka temukan. Namun demikian, mereka menyadari benar bahwa bisa saja jalan keluar yang mereka “tawarkan” itu tidak sepenuhnya dapat dilaksanakan. Masih perlu diuji ketepatan dan keberterimaan serta kecocokkannya dengan konteks kekinian bangsa Indonesia. Namun, setidaknya, mereka sudah ikut memikirkan masalah-masalah yang dihadapi bangsa Indonesia. Hal inilah yang menjadi salah satu kekuatan dari ISIC ini, yang terus dipertahankan agar para mahasiswa tidak lupa untuk terus memikirkan dan memberi sumbangsih nyata untuk kelanjutan pembangunan Indonesia.

Setelah dibuka secara resmi oleh Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Inggris Raya dan Irlandia Dr Rizal Sukma, ISIC 2016 diawali dengan penyajian makalah panel. Ketiga pemakalah panel ini adalah Dr. Fiona Nunan, Head of International Development Department, University of Birmingham, Fitria Irmi Triswati, M.Sc., Wakil Kepala Perwakilan dan Analis Senior Bank Indonesia di Inggris dan Eropa, dan Dr. Erwin Syahruzad, Direktur PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) Tbk. Diskusi panel dipimpin oleh Atase Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia di KBRI London, Prof. E. Aminudin Aziz.

whatsapp-image-2016-10-04-at-16-42-27Dalam paparan yang kemudian dilanjutkan dengan diskusi mendalam antara para peserta dengan ketiga pemakalah panel itu terungkap sejumlah persoalan yang perlu memperoleh perhatian khusus pemerintah Indonesia saat ini. Hal pertama terkait dengan perubahan iklim global yang bukan hanya merupakan masalah sebuah negara namun justru menjadi masalah semua negara saat ini. Dr. Fiona Nunan meyakini bahwa Indonesia, sebagai sebuah negara besar dengan hutan tropis yang luas, memiliki peran yang sangat penting dalam pembicaraan tentang perubahan iklim global ini. Namun, Dr. Nunan buru-buru menyebutkan, bahwa di sisi lainnya, gejala perubahan iklim ini akan menjadi kekhawatiran bagi bangsa Indonesia yang saat ini sedang menggenjot pembangunannya.

Sementara itu, Fitria Triswati dari Bank Indonesia memaparkan perkembangan ekonomi Indonesia saat ini. Dinamika perekonomian Indonesia, menurut Fitria, setidaknya dapat dilihat dari tiga indikator besar, yakni nilai tukar Rupiah, inflasi, dan ekspor-impor. Kondisi perekonomian Indonesia yang makin membaik dapat memberi harapan besar bagi pembangunan ke depan. Namun, Fitria mengingatkan, kondisi ini perlu dibarengi oleh pengambilan kebijakan yang sangat tepat dan hati-hati sehingga tidak menimbulkan gejolak ekonomi baru yang akhirnya akan berdampak negatif untuk pembangunan itu sendiri.

Potret pembangunan infrastruktur Indonesia saat ini dan pola pembiayaannya dipotret secara menarik oleh Dr. Erwin Syahruzad dari PT SMI (Persero). Erwin secara gamblang menyebutkan aneka program pembangunan infrastruktur di Indonesia, mulai jalan tol, jalur kereta api, jalan lintas, pelabuhan, dan sebagainya. Erwin menjelaskan bahwa kebutuhan dana penyediaan infrastruktur itu sangat besar, dan oleh karenanya pemerintah terus mengembangkan pola public-private partnership (PPP). Diharapkan bahwa dengan pola PPP ini setiap keperluan penyediaan infrastruktur akan terpenuhi dengan partisipasi masyarakat yang tinggi. Dengan demikian, akuntabilitas projek dengan PPP ini juga menjadi semakin tinggi.

Selain menggelar rangkaian pemaparan makalah dan diskusi panel, ISIC kali ini juga menyajikan Lomba Debat dan penilaian pemakalah terbaik dan isi makalah terbaik. Penilaian oleh tim panel ahli dilakukan secara cermat untuk menghasilkan pemenang yang benar-benar unggul. Tujuan adanya Lomba Debat dan pemilihan pemakalah dan makalah terbaik adalah untuk menambah kualitas ISIC itu sendiri, sebagai wahana pemajanan pemikiran-pemikiran terbaik para ilmuwan muda Indonesia.

Menutup rangkaian ISIC 2016 ini adalah Gala Cultural Night (GCN). Pada GCN kali ini diangkat tema Mosaik Indonesia, yang menampilkan keragaman Indonesia dan tetap bersatu dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika. Acara GCN yang dikemas dalam bentuk seni drama, musik, dan tari ini berhasil menahan penonton yang berjumlah lebih dari 200 orang itu sampai pertunjukan selesai kira-kira pukul 10.00 malam. Aneka ragam kesenian Indonesia, mulai dari tari Saman, tari Indang, tari Kecak, tari Cendrawasih, tari Golek, Pencak Silat, dan gamelan Bali turut ditampilkan pada pagelaran kali ini. Lagu-lagu daerah seperti Badinding dari Sumatera Barat, Bubuy Bulan dari Jawa Barat, Oh Ina ni Keke dari Manado, Apuse dari Papua juga menghiasi dan menyemarakkan acara GCN. Bahkan, kreativitas mahasiswa Indonesia juga ditampilkan dalam bentuk gubahan irama kroncong untuk sebuah lagu pop Barat, yang ternyata memukau para hadirin. Lagu ini menyertai sajian keroncong Bandar Jakarta yang ditampilkan lebih dulu di samping lagu Puncak Asmara. Terasa benar, bahwa ISIC dan GCN 2016 ini membawa dan menghadirkan suasana Indonesia ke tengah-tengah penonton yang berasal dari Indonesia dan warga Inggris. Untuk menambah jangkauan dan gema dari ISIC ini, ke depan sangat diharapkan agar ISIC bisa menarik peserta yang berasal dari luar Inggris Raya, baik para mahasiswa maupun para peneliti, dosen, dan ilmuwan lainnya. Semoga, tahun depan lebih meriah lagi!

Galeri foto: GCN 2016

Discussion

Comments are closed.

Books (Free)

“Indonesia Goes to School”

Past Events Posters

%d bloggers like this: