Information

[Ended] Diskusi “Papua dan Pembangunan Humanis Melalui Pendekatan Stakeholders” (16 July 2016)

PPI UK Diskusi Terbuka-PapuaPerdebatan perihal Papua akhir akhir ini muncul kembali di kalangan akademisi, politisi dan anggota parlemen di United Kingdom (UK) setelah pernyataan ketua partai buruh UK, Jeremy Corbyn atas dukungannya untuk kemerdekaan Papua Barat yang dipublikasikan oleh theGuardian online lewat artikel Helen Davidson: “Jeremy Corbyn on West Papua: UK Labour Leader Calls for Independent Vote” pada tanggal 6 Mei 2016. Dinamika yang muncul dari perdebatan ini pada dasarnya berakar dari pemahaman yang berbeda dalam menyelesaikan permasalahan di Papua. Hingga saat ini, pembangunan di propinsi Papua dan Papua Barat menunjukkan peningkatan yang sangat signifikan, terutama pasca reformasi tahun 1998.Dari sisi pembangunan ekonomi, pertumbuhan ekonomi berkisar antara 5 – 8 % per tahunnya. Bahkan pemberlakuan Otonomi Khusus pasca reformasi tahun 1998, kedua provinsi di Papua menerima 80% dari pendapatan di sektor kehutanan, perikanan dan pertambangan serta 70% royalti dari pendapatan di sektor minyak dan gas. Pembangunan manusia melalui investasi pendidikan juga dijalankan pemerintah lewat beberapa program seperti program ADEM untuk siswa sekolah dan ADIK untuk mahasiswa. Infrastruktur sebagai pendukung percepatan pembangunan juga menjadi target pemerintah Indonesia yaitu dengan pembangunan 4325 kilometer jalan Trans-Papua disusul dengan pembangunan jalur kereta api dan sumber energy. Semuanya mengarah pada tujuan pembangunan di Papua.

Terlepas dari catatan kemajuan yang telah dicapai di Papua, berbagai tantangan di Papua masih menyisakan perdebatan dan penyelesaian yang belum bersifat holistik. Sorotan atas masih kurangnya kapasitas sumber daya manusia di Papua, persoalan ketidaksetaraan gender, isu penyebaran HIV/AIDS dengan prevelensi tertinggi di Indonesia yaitu 2.4% di Papua dan 3.2% di Papua Barat, persoalan ekologi dan kerusakan lingkungan seperti penebangan liar, ekspansi perkebunan kelapa sawit dan aktivitas pertambangan. Masalah masalah tersebut memicu dampak pada degradasi hutan, kerusakan lingkungan, polusi, konflik lahan, pelanggaran hak asasi manusia dan marginalisasi secara ekonomi masyarakat lokal. Yang akhirnya berakhir pada konflik baik horizontal maupun vertikal.

Gagasan untuk mengedepankan pendekatan stakeholders dengan menjalankan prinsip caringdan connection dalam menyelesaikan persoalan di Papua menjadi penting untuk dikaji. Menjaga seluruh kepentingan pemangku kepentingan (stakeholders) dan menyeimbangkan seluruh kepentingan  guna menghindari konflik lewat aturan main yang adil akan menjadi dasar bagi tata kelola pemerintahan yang baik.

Narasumber diskusi ini antara lain:

  1. Erlangga Agustino Landiyanto  (Mahasiswa PhD University of Bristol, dengan Kajian Kebijakan Publik, Kemiskinan dan Perkembangan Ekonomi di Papua)
  2. Willem Burung (Mahasiswa DPhil St. Catherine’s College, University of Oxford, dengan Kajian Otonomi Khusus, Pendidikan dan Kelompok Etnis Papua)
  3. Arie Ruhyanto (Mahasiswa PhD University of Birmingham, dengan Kajian State Building di Papua, Perspektif Legitimasi Sosial)
  4. Dr. Syahrul Hidayat (Honorary Research Fellow, Institute of Arab and Islamic Studies, University of Exeter & dosen Departemen Ilmu Politik FISIP UI dengan Kajian Papua dari Sudut Pandang Politik Nasional dan Lokal)

WHEN: Saturday, 16 July 2016 from 10:00 to 12:30 (BST) – Add to Calendar

WHERE: Read Lecture Theatre, Sherfield Building 5th Floor – Imperial College London, South Kensington, London, SW7 2A – View Map

Event page: https://www.eventbrite.co.uk/e/diskusi-papua-dan-pembangunan-humanis-melalui-pendekatan-stakeholders-tickets-26419314882

Discussion

Comments are closed.

Books (Free)

“Indonesia Goes to School”

Past Events Posters

%d bloggers like this: