News

Menjalani Ramadan saat Musim Panas di Newcastle (2)

Di Durham Ada Masjid di Belakang Bar, Selalu Dingin bagi Asia

Labelnya memang musim panas. Tapi, musim panas di Inggris tak sepanas di Tanah Air.

Catatan: Muhammad Salis Yuniari (*)

Aktivitas anak-anak muslim yang bermain tarik tambang di Newcastle Central Mosque (Sumber: Pro Kalimantan Timur)

SELAMA di Inggris, saya tinggal di Newcastle. Sebuah kota di utara, berbatasan dengan Skotlandia. Di kota ini, suhu musim panas rata-rata adalah 18-20 derajat celcius. Cukup dingin dibanding London di selatan, yang saat musim panas suhu bisa menyentuh 27 derajat celcius.

Namun, masih lebih hangat dibanding kota-kota di Skotlandia semacam Glasgow ataupun Aberdeen. Di dua kota itu, musim panas pun suhu masih di kisaran 15 derajat celcius.

Walaupun begitu, menurut orang sini, cuaca adalah satu dari tiga hal yang tidak bisa dipercaya. Dua yang lain adalah politikus dan sopir bus. Hal ini karena mudahnya cuaca berubah, sekalipun bagi kita orang Asia tetap saja bisa diprediksi; selalu dingin.

Contoh sulitnya cuaca diprediksi adalah awal April lalu. April seharusnya sudah musim semi, artinya mulai hangat, namun tiba-tiba saja pada satu hari salju kembali turun. Jadi, meskipun musim panas, dan puasa harus dijalani sekira 20 jam, cuaca tak begitu memberatkan. Karena memang musim panasnya lebih dingin ketimbang di Tanah Air. Dan walaupun berbuka puasa baru pukul 22.00, hal itu tidaklah terasa sangat berat.

Di United Kingdom (UK) — Inggris, Wales, Skotlandia —  komunitas muslim saat ini jumlahnya cukup besar. Menurut sensus terakhir, sudah lebih dari 3 juta jiwa atau kisaran 6 persen dari total populasi. Jumlah yang cukup signifikan inilah salah satu faktor  membuat kehidupan sebagai muslim di UK tidaklah sulit.

Hal inilah yang membuat penulis kaget pada awal kedatangan dulu. Sulit mencari masjid dan toko daging atau makanan halal adalah bayangan sebelum berangkat dari Indonesia. Namun demikian, alhamdulillah, ternyata bayangan itu salah, meski tidak bisa dibayangkan hal yang sama sebagaimana di Indonesia.

Saat ini, di Newcastle sudah berdiri 14 masjid. Komunitas muslim kebanyakan hidup di sekitarnya. Namun demikian, masjid-masjid ini lokasinya tidak menyebar sepenuhnya. Ada area (desa) semacam Gosforth ataupun Washington yang tidak ada masjid. Umumnya, ini adalah daerah permukiman dengan mayoritas penghuni asli (pribumi). Berbeda dengan area perdagangan ataupun sekitaran kampus yang penghuninya multiras.

Contohnya Fenham, tempat saya tinggal. Di sini mayoritas penghuninya adalah mahasiswa terutama dari Newcastle University dan Northumbria University.

Fenham memiliki empat masjid. Dari satu masjid ke masjid lain berjarak tempuh antara 5-20 menit menit jalan kaki. Demikian pula toko yang menjual daging dan makanan halal cukup banyak dan menyebar di Fenham. Kebanyakan penjualnya adalah orang-orang dari Timur Tengah atau Asia Selatan, terutama Pakistan dan Bangladesh.

Menu kebab, nasi biryani, kari adalah makanan-makanan yang mudah ditemui. Jika umumnya di Indonesia pisang goreng adalah makanan kecil teman minum teh, maka samosa adalah makanan favorit teman ngobrol di sini. Samosa semacam lumpia goreng namun bentuknya segitiga.

Isinya bukan rebung dan wortel, namun kacang polong dan kentang tumbuk yang bisa juga dicampur daging kambing atau ayam. Gurih, renyah, dan sangat lezat dicocol dengan saus tomat sedikit pedas.

Gambaran di Newcastle ini juga mencerminkan penyebaran muslim di UK. Ada beberapa kota tertentu yang jumlah muslimnya masih sangat kecil, sehingga jumlah masjid sangat terbatas. Hal ini sekaligus menjadi tanda sedikitnya toko halal di kota tersebut. Contohnya adalah Durham. Kota kecil di sebelah Newcastle. Atau York, salah satu kota wisata yang terkenal dengan bangunan-bangunan tuanya yang indah.

Di Durham hanya ada satu masjid kecil. Letaknya di belakang sebuah bar. Namun, tidak perlu takut akan adanya gangguan, hal ini karena hukum di UK sangat tegas. Walaupun saat melewati gang kecil menuju masjid tersebut aroma alkohol akan tercium begitu pekat. Di Durham juga tidak ada toko yang menjual daging halal.

Muslim di Durham harus datang ke Newcastle bila ingin membeli daging halal. Umumnya mereka membeli langsung lebih dari sepuluh kilogram, jadi persediaan sebulan. Bergantung jumlah anggota keluarga.

Jika berkunjung ke kota ini, maka fish and chips (kentang goreng) adalah menu andalan yang cocok dengan lidah Indonesia. Sandwich dengan isi tuna, keju ataupun telur bisa juga menjadi pilihan. Jangan membeli ayam goreng, sekalipun ayam namun tidaklah halal karena tidak disembelih sesuai syariat.

Sebaliknya, ada banyak kota yang persentase komunitas muslimnya cukup besar. London, Birmingham, dan Manchester adalah tiga di antaranya. Hampir di setiap sudut kotanya ada masjid dan mencari toko makanan halal tidaklah sulit. London Central Mosque adalah yang terbesar di London, sebagai contohnya.

Dengan arsitektur yang indah dan megah, perpaduan gaya Eropa yang khas dengan desain kotak dan lancip bertemu lonjong dan bulat ciri khas Timur Tengah. Di kompleks masjid, ada beberapa kantin yang menjual makanan halal dengan rasa yang lezat dan harga terjangkau. Jika hari Jumat, sering banyak orang yang bersedekah kue-kue gratis seusai Jumatan. Sebuah tradisi yang jamak ditemui di banyak masjid di UK.

Perkembangan Islam dan kehidupan dakwah di UK sangat baik. Pertumbuhan jumlah muslim adalah yang paling pesat dibanding pertumbuhan pemeluk agama lain. Menariknya, pertumbuhan muslim ini seiring dengan semakin besarnya jumlah orang yang tidak meyakini adanya Tuhan (atheis) ataupun percaya Tuhan namun menolak agama (agnostik).

Dari kalangan “no-religion” inilah, yang kebanyakan kaum muda, umumnya mualaf berasal. Mengutip gurauan pendakwah di sini, mereka sebenarnya sudah separuh muslim. Yakni, sudah mengakui bahwa tidak ada Tuhan (La Illaha), kurangnya hanya belum mengenal dan mengakui Allah.

Dakwah di UK bukan hanya dilakukan melalui masjid-masjid, namun juga melalui kegiatan kemasyarakatan, terutama universitas. Kedatangan para mahasiswa internasional dari negara-negara muslim menjadi tambahan tenaga dakwah.

Melalui Islamic Society (Isoc) di tiap kampus, mereka rutin mengadakan kegiatan dakwah Islam. Seperti Discover Islam Week. Yakni, ajang memperkenalkan budaya, sejarah, seni dan juga kuliner dari negara-negara muslim. Termasuk beberapa pakar yang akan menjawab setiap pertanyaan mengenai Islam.

Ada pengalaman menarik saat Idulfitri 2015. Ini menggambarkan indahnya ukhuwah islamiah komunitas muslim di UK. Penulis, dan kebanyakan pelajar Indonesia, umumnya lebih senang bergabung dengan Newcastle Central Mosque karena jamaahnya yang multibudaya dan setiap kegiatan selalu dengan pengantar bahasa Inggris.

Hal ini berbeda dengan Madina Mosque yang mayoritas jamaahnya dari Pakistan sehingga khotbah sering dilakukan dalam bahasa Urdu. Atau Masjid Turkish yang selalu dengan bahasa Turki. Idulfitri tahun lalu untuk pertama kali, panitianya adalah gabungan dan salat Id dilakukan bersama di Nunsmoor Park.

Menjadi khatib adalah giliran dari Newcastle Central Mosque, sedang imam salat dari Madina Mosque. Saat  salat, ternyata takbir yang berulang (tujuh dan lima kali) dilakukan setelah berdiri dari rukuk, bukan setelah takbiratul ihram sebagaimana di Indonesia maupun di Newcastle Central Mosque.

Banyak jamaah yang biasa bergabung Newcastle Central Mosque yang kebingungan. Namun setelahnya, didapat pemahaman bahwa kedua cara itu ada hadisnya.

Kami pun warga Indonesia setelah salat mengobrol dan berkata, pasti kejadian seperti ini jika di Indonesia sudah ramai di media sosial dan menjadi perdebatan. Namun, dengan melihat hal yang berbeda, kami menjadi belajar lebih banyak. (far/k15)

(*) PhD Student, Institute of Neuroscience Faculty of Medical Sciences, Newcastle University, United Kingdom

Discussion

Comments are closed.

Books (Free)

“Indonesia Goes to School”

Past Events Posters

%d bloggers like this: