News

Buka Puasa Pukul 22.00, Jamaah Tarawih Tak Menyusut

Menjalani Ramadan saat Musim Panas di Newcastle (1)

Ini adalah tahun keempat saya menjalani Ramadan di United Kingdom of Great Britain (UKGB). Tepatnya di Inggris. Bulan puasa di negeri ini dalam empat tahun terakhir berlangsung saat musim panas. Musim ketika azan magrib dikumandangkan mendekati pukul 22.00. Sementara salat subuh ditegakkan setengah tiga pagi. Artinya puasa dijalani hampir 20 jam.

Catatan: Muhamad Salis Yuniardi  (*)

Suasana berbuka puasa di Newcastle Central Mosque, Newcastle, Inggris (Sumber: Pro Kalimantan Timur)

AWALNYA, membayangkan menjalani puasa selama 20 jam, buka puasa pukul 22.00, tarawih pukul 23.30 dan sudah harus selesai sahur sebelum 02.45 pagi, sangatlah menakutkan. Pasti berat, haus, lapar dan jelasnya mengantuk. Namun demikian, ternyata Allah Maha Adil. Ramadan di UK tetaplah menyenangkan, seperti di Indonesia. Meski tidak ada suara tadarus malam hari dari masjid, riuhnya suara anak-anak keliling kampung menabuh kentungan membangunkan sahur, maupun bermacam jajanan yang umumnya dijajakan di berbagai jalan menjelang buka puasa.

Kesulitan yang dihadapi untuk menjalani puasa Ramadan ini, yang jika musim panas bisa hampir 20 jam, bukanlah mengenai lapar dan haus. Tapi, rasa kantuk. Dengan suhu rata-rata masih di kisaran 20 derajat celcius, maka musim panas pun masih tidak sepanas Indonesia.

Sekalipun aktivitas di sini banyak dengan jalan kaki dan bersepeda ataupun transportasi umum (pajak kendaraan pribadi dan denda pelanggaran lalu lintas sangat mahal, selain itu mencari parkir juga sulit dan biaya tinggi), namun tubuh tidaklah terlalu berkeringat. Dengan pola berbuka dan sahur yang lebih banyak cairan, makan buah, sayur dan menu berserat, serta mengurangi makanan berminyak (gorengan) dan gula, maka haus dan lapar itu tidak terlalu terasa.

Namun demikian, selesai Tarawih pukul 00.30 dan harus menyiapkan sahur paling tidak pukul 02.00 pagi, membuat tidur hanya dua jam malam hari. Sangat beruntung aktivitas kantor di UK umumnya dimulai paling pagi pukul 08.00. Sedangkan perkuliahan maupun sekolah dimulai pukul 09.00. Artinya, sehabis subuh dan tadarus, bisalah tidur lagi selama paling tidak dua jam. Namun demikian, tidak seperti di Indonesia yang aktivitas kantor, kampus ataupun sekolah berkurang saat Ramadan. Semua aktivitas di UK tetaplah berjalan normal sekalipun bulan puasa. Kantor tutup pukul 18.00. Kuliah tetap bisa sampai malam hari dan anak-anak sekolah pulang jam 15.30.

Khusus anak-anak yang masih duduk di primary school (setara SD, namun di sini umur 5 tahun sudah kelas 1), ada aturan yang melarang mereka puasa. Jika orangtua memaksa, maka ia harus menandatangani sebuah form yang akan bertanggung jawab terhadap segala risikonya. Termasuk berurusan hukum bila ternyata puasa mengakibatkan hal buruk untuk kesehatan anak. Namun demikian, memang agak sulit bagi anak-anak umur di bawah 11 tahun harus puasa selama 20 jam, sementara saat yang sama harus beraktivitas seperti biasa. Maka untuk melatih mereka berpuasa, dipakailah strategi puasa setengah hari. Anak-anak ikut makan sahur pukul 2 pagi. Siang pukul 13.00 makan di sekolah, dan berbuka pukul 18.00 atau 19.00. Pada akhir pekan, bagi anak-anak yang sudah agak besar, bolehlah dilatih puasa penuh.

Tentu tak seperti di Indonesia, pemerintah secara resmi akan mengumumkan awal Ramadan, di sini informasi tersebut diperoleh dari masjid-masjid terdekat. Sangat beruntung sekarang teknologi sosial media sudah berkembang pesat. Masjid-masjid akan mengumumkan kepastian awal Ramadan lewat website maupun Facebook mereka.

Seperti umumnya di Tanah Air, masjid-masjid di UK juga semarak dengan kegiatan yang khas Ramadan. Setiap masjid selalu menyediakan iftar untuk berbuka puasa. Hidangan biasanya sepaket kurma, samosa, buah-buahan dan susu segar. Selanjutnya setelah jamaah salat Magrib, hidangan utama dikeluarkan. Sering kali menunya nasi biryani yang divariasi, sehari ayam sehari daging kambing. Biasa ditemani salad sayuran, buah, dan minumnya jus. Seporsi biryani selalu berlebih untuk perut orang Indonesia, selapar apapun dia.

Sisanya bisa dibawa pulang untuk sahur. Uniknya, bagi teman-teman yang datang dari Timur Tengah ataupun Afrika, ternyata seporsi biryani tidaklah cukup. Tambahan setengah ataupun bahkan satu porsi biryani boleh dikata itu pasti. Tak jarang pula diganti nasi kari India ataupun kebab Turki.

Menu-menu yang istimewa inilah yang membuat para mahasiswa Indonesia yang masih bujangan menjadi rajin ke masjid pada bulan puasa. Alasan lainnya adalah penghematan pengeluaran plus tidak lagi repot karena tidak perlu memasak. Mereka menamakan diri “Fasukan Pemburu Iftar”.

 Berbuka biasanya selesai saat mendekati pukul 23.00. Oleh karenanya, banyak jamaah terutama yang laki-laki memilih untuk terus berdiam di masjid. Menunggu waktu jamaah isya dengan tadarus. Saat jam sudah menunjukkan angka 23.30, azan isya berkumandang. Jika di Newcastle Central Mosque, salat Tarawih dan Witir 11 rakaat. Sedangkan di Masjid Madina, masjid komunitas Pakistan, salat Tarawih dan Witir dilaksanakan 21 rakaat. Sekalipun demikian, jangan berharap bacaan suratnya pendek-pendek. Para imam umumnya adalah para hafiz-hafiz pilihan. Rakaat demi rakaat dilaksanakan sepenuh hati dan mendengar suara bacaan imam yang sangat merdu. Sering kali air mata mengalir saat melaksanakan ibadah Tarawih. Indah sekali.

Satu hal lain yang berbeda dengan di Indonesia, di sini jamaah Tarawih tidaklah berkurang seiring mendekati Idulfitri. Hal ini karena di UK tidak dikenal budaya mudik maupun belanja menjelang Lebaran. Orang tidak mudik karena hari Idulfitri belumlah menjadi libur nasional. Orang biasanya izin datang terlambat kantor dan langsung beraktivitas normal selepas salat Id. Bagi para mahasiswa, jika hari tersebut kebetulan ada ujian, maka terpaksa memilih tidak ikut salat Idulfitri. Kalaupun kuliah biasa, bolehlah bolos barang sehari.

Orang juga tidak berbelanja besar-besaran karena jika menyangkut pesta shopping, orang lebih memilih berbelanja di Boxing Day 26 Desember, di mana seluruh produk bisa diskon hingga 70 persen. Namun demikian, sesuai pesan para imam di sini, baju baru dan mainan untuk anak serta membawa mereka makan istimewa di restoran adalah “wajib” saat Idulfitri. Hal ini agar anak-anak bisa merasakan indah dan istimewanya Lebaran, yang bahkan lebih indah dari hari libur lainnya.

Memang kadang hal di atas membuat sedikit rasa sedih, terlebih bila rasa kangen keluarga di Indonesia muncul saat bersamaan. Namun demikian, suasana senangnya Lebaran tidaklah berkurang. Sore atau malam, saling berkunjung, silaturahmi, mengucap selamat dan mohon maaf untuk semua kesalahan juga menjadi tradisi di sini. Bukan hanya sebatas sesama muslim Indonesia, namun terhadap sesama muslim sekalipun berbeda negara. Makanan-makanan khas dari tiap negara pun tersaji dan saling mencicipi.

 Kemudian pada akhir pekannya, komunitas muslim Indonesia pun biasanya langsung mengadakan halalbihalal. Seluruh warga negara Indonesia di Newcastle, Durham, dan Sunderland akan datang, sekalipun bukan muslim. Saat halalbihalal anak-anak dari Al-Imanu Kids juga menampilkan kemampuan mereka. Seperti menghafal Alquran maupun menyanyikan lagu-lagu islami. Lontong dan opor ayam menjadi menu utamanya. Bersalaman dan foto bersama saat akhir acara menjadi pelengkapnya. Acara menjadi sangat meriah, membantu mengurangi rasa rindu dan sedih tidak bisa berkumpul dengan keluarga di Indonesia. Tanpa sekat agama dan suku, seluruh WNI di Newcastle dan sekitarnya menyatu. Berbagi kebahagiaan dan kedamaian. Lebaran pun tetap indah sekalipun di negeri orang. (far/k15)

(*) PhD Student, Institute of Neuroscience Faculty of Medical Sciences, Newcastle University, United Kingdom

Sumber: http://kaltim.prokal.co/read/news/269490-buka-puasa-pukul-2200-jamaah-tarawih-tak-menyusut.html

Discussion

Comments are closed.

Books (Free)

“Indonesia Goes to School”

Past Events Posters

%d bloggers like this: