News

Pengalaman Menikmati Puasa 19 Jam di Inggris, Terlama Sejak 33 Tahun

Manchester – Tahun ini umat muslim di Inggris menjalankan puasa selama 19 jam sehari, sekaligus menjadi puasa terlama sejak 33 tahun terakhir.

Sekretaris Jendral Organisasi Muslim di Inggris, Ibrahim Mogra, menyebutkan bahwa puasa di bulan Ramadan tahun ini memang sangat berat, namun demikian puasa kali ini akan menjadi pengalaman hidup dan pembelajaran penting bagi umat Islam di Inggris. Terutama dalam meningkatkan rasa solidaritas terhadap masyarakat miskin dan terlantar.

Hal senada juga disampaikan oleh Sadiq Khan, Wali Kota London yang baru saja terpilih. Puncak musim panas yang terjadi tahun ini membuat puasa Ramadan kali ini jauh lebih menantang. Meski demikian, dia tetap yakin bahwa puasa Ramadan tidak akan mengganggu aktivitasnya dalam memimpin kota London. Sadiq Khan, Wali Kota pertama London yang berasal dari umat muslim tersebut juga menyampaikan bahwa puasa Ramadan kali ini adalah kesempatan bagi umat muslim untuk meningkatkan rasa kebersamaan dan solidaritas sosial.

Besarnya potensi Ramadan bagi masyarakat yang tidak mampu disadari betul oleh Sadiq Khan dan pemerintah Inggris. Berdasarkan riset yang dilakukan oleh ICM, komunitas muslim di Inggris adalah lembaga penyumbang dana sosial terbesar di Inggris. Dana itu terhimpun dari sedekah dan zakat yang mencapai 100 juta poundsterling atau hampir 2 triliun rupiah setiap tahunnya. Jumlah ini diperkirakan terus meningkat sekitar 30 juta poundsterling (579 miliar) per tahunnya. Setiap muslim di UK rata-rata memberikan donasi sebesar 371 poundsterling per orang atau sekitar Rp 7 juta. Jumlah yang jauh lebih tinggi dari kelompok masyarakat lainnya.

Tidak hanya sedekah dan zakat, berbagai organisasi muslim di UK juga mengadakan buka puasa bersama secara gratis selama bulan Ramadan. Buka puasa gratis disediakan untuk semua golongan masyarakat baik muslim maupun non-muslim. Hal ini menunjukkan bahwa puasa Ramadan mampu mempererat tali persaudaraan antar komunitas masyarakat meski dengan latar belakang yang berbeda-beda.

(Courtesy: Media Wahyudi Askar)

Setelah menahan haus dan lapar selama hampir 20 jam, hari ini saya menikmati buka puasa di salah satu masjid di kota Manchester. Masjid yang dikelola oleh migran asal Somalia itu menyediakan buka puasa gratis dengan hidangan khas masakan Afrika dan Timur Tengah.

Kebahagiaan dan kebersamaan jelas tampak dari raut wajah mereka. Tidak sedikit pun terlihat wajah lelah meski banyak di antara mereka telah bekerja seharian sebagai buruh maupun sopir taksi. Setiap orang dengan lahap menikmati makanan yang disediakan.

Tepat pukul 11 malam, semua orang melaksanakan salat tarawih. Mesjid penuh disesaki warga muslim yang tidak sabar memulai tarawih pertama di masjid.
Bagi saya, entah kenapa, tarawih kali ini terasa begitu hikmat. Tidak hanya lantunan ayat Alquran dari sang imam yang begitu merdu, tetapi juga proses salat tarawih yang sedikit berbeda dengan yang biasa saya ikuti saat tinggal di Indonesia.

Salat tarawih baru selesai mendekati pukul 1 dini hari. Menjelang pukul 02.30 dini hari, masjid masih penuh sesak diisi oleh umat muslim yang melaksanakan salat malam berjamaah. Salat itu bahkan tidak hanya diikuti oleh orang dewasa tetapi juga anak-anak. Sebelum pukul 03.00 pagi, kami makan sahur bersama, yang juga disediakan secara gratis oleh pengurus masjid.

Ternyata benar bahwa bulan Ramadan adalah bulan kebahagiaan. Di dalamnya tersimpan hikmah yang sangat mendalam. Pengalaman berpuasa di Inggris mengajarkan saya banyak hal tentang hakikat beragama, bahwa umat muslim tidak hanya dianjurkan untuk beribadah tetapi juga membina tali persaudaraan antar sesama. Semoga Ramadan tahun ini menjadi berkah untuk kita semua.

Penulis: Media Wahyudi Askar (Ketua PPI UK dan mahasiswa doktoral di the University of Manchester)

Sumber: https://news.detik.com/berita/3227051/pengalaman-menikmati-puasa-19-jam-di-inggris-terlama-sejak-33-tahun

Discussion

Comments are closed.

Books (Free)

“Indonesia Goes to School”

Past Events Posters

%d bloggers like this: