News

Pelajar Indonesia Kecam Pemimpin Oposisi Inggris

Dua warga Indonesia yang tinggal di Inggris menulis surat terbuka kepada pemimpin oposisi Inggris, Jeremy Corbyn. Surat yang dimuat laman The Huffington Post pada 9 Mei 2015 ditujukan sebagai protes atas dukungan Corbyn bagi referendum pembebasan Papua Barat dari Indonesia.

Muhammad Zulfikar Rakhmat menerakan diri sebagai jurnalis lepas dan peneliti doktoral, sementara Media Wahyudi Askar seorang mahasiswa doktoral di University of Manchester sekaligus ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia di Inggris.

Dalam alinea pembuka, surat itu merujuk kepada artikel tertentu di The Guardian ihwal dukungan Corbyn bagi perjuangan pembebasan Papua Barat. “Kami sangat kecewa dengan simpulan picik Anda atas Papua dan Papua Barat yang sangat tidak berdasar dan mencerminkan terbatasnya pengetahuan Anda mengenai dua provinsi termaksud,” demikian bunyi bagian pendahuluan.

Lebih lanjut, keduanya mengkritik pernyataan Corbyn yang dianggap “melukai perasaan 250 juta rakyat Indonesia” yang “3,9 juta di antaranya tinggal di 42 distrik dan kota di Papua dan Papua Barat.” Mereka mengaku berkecil hati karena Corbyn yakin penduduk Papua dan Papua Barat “tidak dapat menikmati demokrasi…karena tidak bebas menentukan pilihan, bebas (membangun) pemerintahan, dan bebas menentukan nasib sendiri.”

Rakhmat dan Askar lantas mencela Corbyn karena memberikan dukungan kepada Benny Wenda yang mereka pandang “rasis dan berprasangka buruk terhadap warga Indonesia non-Papua yang bekerja dan tinggal di Papua dan Papua Barat.”

Dalam terusan suratnya, kedua penulis tersebut memaparkan sejumlah fakta mengenai Benny Wenda serta sejumlah pelurusan mengenai kondisi keamanan di Papua dan Papua Barat. Di bagian penutup, mereka menekankan bahwa Indonesia “laiknya Inggris” tengah berkomitmen “mengedepankan hak asasi manusia, pluralisme, dan multikulturalisme.” Oleh karenanya, kedua negara, dalam hemat mereka “seharusnya dapat bahu-membahu dalam menyorot masalah tersebut dengan sandaran kesetaraan, saling menghargai, dan saling memahami.”

Seperti ditulis sejumlah media, sejumlah anggota parlemen beberapa negara Pasifik dan Inggris mengadakan pertemuan di London pada awal Mei lalu dan menyerukan kepada dunia internasional untuk mengawasi referendum Papua Barat.

Laman Radio New Zealand melaporkan pada 4 Mei 2016 kelompok itu–International Parliamentarians for West Papua–menyatakan bahwa Corbyn mendukung perjuangan Papua Barat untuk merdeka. Ia pun diklaim bakal menyertakan hal itu dalam kebijakan luar negeri Partai Buruh yang ia pimpin.

Dari pertemuan itu, diperoleh simpulan bahwa pelanggaran hak asasi manusia di Papua Barat takdapat diterima. Selain itu, jika masyarakat internasional tidak bertindak, penduduk Papua bakal binasa.

Forum pun meminta agar penyelenggaraan referendum diawasi secara internasional sejalan dengan Resolusi Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Berkaitan dengan perkara tuntutan kemerdekaan, pada 2 Mei 2016, kepolisian Indonesia menangkap ribuan warga Papua dalam aksi damai pro-pembebasan Papua, yang digelar di sejumlah kota.

Demonstrasi damai digelar untuk memberikan dukungan bagi pertemuan International Parliamentarians for West Papua (IPWP) di London.

Aksi pun dimaksudkan sebagai dukungan bagi United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) untuk masuk menjadi anggota penuh Melanesian Spearhead Group(MSG), sebuah forum diplomatik di Pasifik Selatan.

Menurut catatan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta, setidaknya ada 1.724 aktivis pro-pembebasan Papua yang ditangkap dalam unjuk rasa di Jayapura, Sorong, Merauke, Fakfak, Wamena, Semarang dan Makassar, pada 2 Mei.

Oleh: Bonardo Maulana Wahono

Sumber: https://beritagar.id/artikel/berita/pelajar-indonesia-kecam-pemimpin-oposisi-inggris

Discussion

Comments are closed.

Books (Free)

“Indonesia Goes to School”

Past Events Posters

%d bloggers like this: