News

Menyambut Masa Depan Indonesia dengan LPDP

10885586_10204839567422464_6211381928917414261_nKEMAJUAN suatu bangsa ditentukan mutu pendidikannya. Nelson Mandela mengingatkan; “pendidikan adalah senjata yang paling ampuh yang dapat kamu gunakan untuk mengubah dunia.” Tak heran negara maju seperti di Eropa maupun di Asia Timur sangat memperhatikan pendidikannya. Salah satu terobosan pemerintah RI periode 2009-2014 di bidang pendidikan adalah membentuk Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Lembaga ini bertugas memberikan beasiswa program magister dan doktoral bagi masyarakat Indonesia.

Ide membentuk LPDP dicetuskan pertama kali Menteri Keuangan RI tahun 2005-2010, Sri Mulyani Indrawati. Setiap tahun LPDP mendapatkan alokasi dana dari 20% dana pendidikan dari APBN. Dana tersebut dijadikan dana abadi, artinya dana tersebut tidak langsung dipakai untuk memberikan beasiswa, melainkan diinvestasikan. Hasil dari investasi tersebutlah yang digunakan untuk dana operasional LPDP dan dana beasiswa.

Tahun 2013, LPDP memiliki dana abadi sebesar Rp16 triliun dan hasil investasi sebesar Rp1 triliun. Dengan dana tersebut, LPDP dapat menyekolahkan ribuan mahasiswa Indonesia setiap tahunnya. Dari tahun 2013 hingga saat ini, sudah lebih dari 4000 penerima beasiswa LPDP di luar maupun di dalam negeri.

Mengapa LPDP?

Di tengah-tengah skeptisme masyarakat akan pemerintah, saya dapat mengatakan bahwa LPDP adalah salah satu lembaga pemerintah dengan kinerja yang sangat memuaskan. Dana beasiswa dikelola dengan profesional dan bersih. Hal ini dibuktikan dengan pengalaman saya dan sebagian besar teman-teman penerima beasiswa LPDP. Penerima beasiswa LPDP menerima dana beasiswa yang berkecukupan. Tidak kekurangan dan tidak pula berlebihan. Masalah pembayaran selama ini juga selalu tepat waktu.

Apabila ada masalah pembayaran, pihak LPDP akan langsung turun tangan menyelesaikan masalah tersebut. Saya cukup sering mendengar adanya masalah birokrasi dan masalah pembayaran dengan kampus-kampus di dalam negeri, tapi masalah tersebut dapat diselesaikan setelah pihak LPDP menghubungi pihak kampus.

Satu hal yang spesial dari LPDP adalah mereka tidak menetapkan batasan jumlah penerima beasiswa. Selama pendaftar beasiswa memenuhi kriteria dan lolos seleksi, maka pendaftar tersebut layak menjadi penerima beasiswa. Saat seorang artis Indonesia berhasil mendapatkan beasiswa LPDP, banyak yang berkomentar, “kenapa dia tidak memberikan jatahnya untuk orang yang kurang mampu?” Karena saya tahu LPDP tidak memiliki kuota, saya sama sekali tidak memiliki masalah dengan hal tersebut. Penerima beasiswa LPDP dari kalangan yang mampu tidak menutup jatah dari kalangan yang kurang mampu.

Sebagai lembaga yang baru memberikan beasiswa dari tahun 2013, LPDP terus mengembangkan organisasinya. Mereka bersedia menerima masukan dari mana saja, termasuk dari penerima beasiswanya. Sebagai contoh, uang bulanan di Inggris pada tahun 2013 dirasa sangat kurang sehingga banyak penerima beasiswa LPDP di Inggris yang “menjerit” dan memberikan berbagai masukan ke direksi LPDP. Dengan berbagai masukan tersebut, akhirnya uang bulanan untuk Inggris dinaikkan pada 2014. Begitu juga dengan negara lain.

Begitu seseorang mendapatkan beasiswa LPDP, bisa dibilang orang tersebut tidak perlu mengeluarkan dana apapun lagi. Semua kebutuhan untuk studi ditanggung LPDP. Uang kuliah pun dapat dibiayai, tidak peduli sebesar apapun biayanya. Uang kuliah saya yang totalnya mencapai £100,000 (sekitar Rp2.2M) juga dapat dibiayai oleh LPDP.

Selain uang kuliah dan uang bulanan, LPDP juga memberikan asuransi kesehatan, settlement cost (dana yang dibutuhkan untuk penyesuaian diri), transportasi pulang-pergi satu kali dari tempat tinggal menuju tempat studi, dana pengurusan visa untuk yang studi di luar negeri, uang buku, dan lain-lain.

LPDP juga bahkan memberikan tunjangan bagi yang sudah berkeluarga. Jadi apabila pola dan kebutuhan hidup tidak berlebihan, penerima beasiswa LPDP tidak perlu mengeluarkan uang lagi untuk keperluan studinya, bahkan sebagian uang beasiswanya dapat ditabung.

Di awal terbentuknya LPDP, terdapat kecemasan dari beberapa orang. Setelah penerima beasiswa LPDP menyelesaikan studinya dan kembali ke Indonesia, apakah mereka dapat terserap dalam lapangan pekerjaan? Sudah banyak kasus yang kita dengar banyak anak bangsa yang tidak dapat kembali ke Indonesia karena tidak ada pekerjaan yang cocok untuknya. Untuk mengatasi masalah tersebut, LPDP juga membentuk ikatan alumni yang disebut Mata Garuda (MG). Salah satu peran MG adalah sebagai talent pool atau sebagai penghubung antara perusahaan dengan alumni LPDP dari berbagai latar belakang.Baru-baru ini MG menjalin kerja sama dengan salah satu bank di Indonesia untuk menyerap alumni LPDP.

Persyaratannya apa saja?

Persyaratan untuk menjadi calon penerima beasiswa LPDP tidaklah berat. Karena LPDP merupakan beasiswa untuk S2 dan S3 dari pemerintah Indonesia, maka pendaftar tentunya haruslah WNI yang telah lulus S1 atau S2 di universitas di dalam maupun di luar negeri. Meskipun pada tahun 2013 dosen tidak dapat menjadi penerima beasiswa LPDP, sekarang persyaratan tersebut telah diubahsehingga dosen juga dapat mendaftar beasiswa LPDP. LPDP juga terbuka untuk seluruh kalangan, dari kalangan akademis, agama, militer, hingga kalangan profesional. Teman-teman saya yang menerima beasiswa LPDP ada yang berprofesi sebagai dosen, penceramah, tentara, PNS, dokter, pengusaha, dan lain-lain.

Sebagai persyaratan khusus, LPDP menetapkan batasan umur 35 untuk penerima beasiswa magister dan 40 untuk program doktoral. Apabila calon penerima beasiswa belum diterima di universitas manapun, orang tersebut tetap dapat mendaftar ke LPDP dengan syarat memiliki indeks prestasi kumulatif minimum 3 dari skala 4 serta memenuhi standar bahasa Inggris. Persyaratan lengkap dapat dilihat di website LPDP atau di tautan berikut: http://www.lpdp.kemenkeu.go.id/beasiswa/beasiswa-magister-doktor/.

Meskipun syarat-syarat tersebut terdengar tidak sulit, bagi beberapa orang terdengar cukup sulit. Khususnya untuk memenuhi syarat bahasa Inggris untuk orang dari daerah yang pembangunannya masih kurang. Oleh karena itu, LPDP juga menyediakan program afiliasi yang salah satunya ditujukan untuk peserta dari daerah perbatasan dan dari daerah tertinggal.Jenis persyaratan untuk program afiliasi ini tetap sama seperti yang disebutkan di atas, tapi dengan batas minimal yang lebih mudah dicapai. Sebagai contoh, persyaratan bahasa Inggris untuk program beasiswa magister LPDP adalah TOEFL minimal 500, sedangkan untuk program afiliasi persyaratannya nilai TOEFL minimal 400.

Bagaimana proses seleksinya?

Tahap pertama dari proses seleksi adalah seleksi administrasi. Untungnya LPDP menggunakan sistem online untuk proses ini, sehingga peserta tidak perlu repot-repot membeli formulir dan mengirimkan kembali formulirnya. Di tahap ini peserta perlu mengunggah dokumen-dokumen yang dipersyaratkan. Apabila seluruh dokumen yang disyaratkan telah lengkap, maka peserta akan lanjut ke seleksi wawancara, Leaderless Group Discussion (LGD), dan On the Spot Essay Writing.

Dalam tahap ini, para peserta harus membawa dokumen asli yang disyaratkan agar dapat dipastikan bahwa dokumen yang diunggah bukanlah dokumen palsu. Yang terpenting dalam seleksi wawancara adalah kejujuran dan memiliki keinginan untuk berkontribusi kepada lingkungan atau masyarakat sekitar. Pewawancara LPDP biasanya melibatkan psikolog. Psikolog inilah yang dapat menilai apakah seorang pesertaberkata jujur atau tidak. Tidak peduli sehebat apapun latar belakang pendidikan atau pekerjaan seorang peserta, apabila peserta tersebut berbohong atau cuek dengan masyarakat sekitarnya, maka LPDP tidak ragu untuk menolaknya. Untungnya, peserta yang gagal dalam seleksi wawancara diberikan satu kesempatan lagi untuk mengikuti seleksi ini.Setelah peserta lolos dari seleksi tersebut, maka peserta telah dinyatakan menjadi penerima beasiswa.

Setelah dinyatakan menjadi penerima beasiswa, peserta masih harus mengikuti tahap terakhir dari seleksi, yaitu Persiapan Keberangkatan (PK). Dalam PK, seluruh peserta dikarantina di satu tempat selama 1-2 minggu dan diberikan materi mengenai nasionalisme, kepemimpinan, dan kemampuan-kemampuan untuk bertahan hidup. Menurut pengalaman saya, di PK ini kami diberikan sangat banyak tugas, bahkan kami mengerjakannya sampai lewat tengah malam. Meskipun lelah, tapi PK memberikan kesan tersendiri karena inilah salah satu wadah untuk menambah teman dari berbagai asal, latar belakang, dan berbagai tujuan universitas. Apabila peserta telah selesai mengikuti PK, maka peserta telah sepenuhnya menjadi penerima beasiswa LPDP.

Kehadiran LPDP di Indonesia bagaikan oasis di dunia pendidikan. Meskipun dampak langsung dari LPDP belum terlihat kasat mata sekarang ini, saya yakin LPDP akan memberikan manfaat yang sangat besar untuk Indonesia di masa depan. Dengan dana yang besar, didukung oleh organisasi yang terus berkembang dan bekerja secara profesional, bukan tidak mungkin Indonesia akan menjadi negara maju berpuluh-puluh tahun dari sekarang berkat LPDP. (*)

Oleh: Muhammad Firmansyah Kasim (Mahasiswa Particle Physics di Oxford University, Inggris)

Sumber: http://makassar.tribunnews.com/2015/08/28/menyambut-masa-depan-indonesia-dengan-lpdp

Discussion

Comments are closed.

Books (Free)

“Indonesia Goes to School”

Past Events Posters

%d bloggers like this: