News

Kangen Jajanan Kutai, Pernah Buka Sekaligus Sahur

Belajar di luar negeri membuka banyak pengetahuan tentang dunia. Tetap saja rindu Lebaran membawa kembali bayang-bayang tanah kelahiran.

M RENDY FAUZAN, Samarinda – KEHILANGAN waktu bersama keluarga paling dirasakan Farid Nurrahman. Pria 25 tahun asal Samarinda itu kini mengejar gelar master of science dari program Real Estate Development & Investment. Dia tengah menuntut ilmu di University of Greenwich, London.

Setahun mengenyam pendidikan di Britania Raya, Idulfitri kali ini adalah yang kedua tanpa keluarga. Kungkungan perkuliahan serta kegiatan organisasi yang padat tak memungkinkan dia kembali ke Bumi Etam.

Farid masih sibuk dengan penyusunan tesis yang September nanti jatuh tenggat. Sedih pun tak terbantah ketika Idulfitri dilewati ribuan kilometer dari Samarinda. Meskipun, rindunya sedikit berkurang karena April lalu dia pulang.

“Biasanya, sungkeman saat Lebaran. Sekarang cuma via Skype atau FaceTime. Itu pun tidak sering karena perbedaan waktu. Di sini lebih lambat tujuh jam,” ucapnya dalam wawancara lewat surat elektronik dengan Kaltim Post.

London, ibu kota Inggris, menjadi pilihan alumnus SMA 10 Samarinda itu untuk melanjutkan studi perencanaan wilayah dan kota. Sebelumnya, dia meraih sarjana di Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya, 2013 silam.

Memiliki mutu pendidikan tinggi, London dianggap cocok sebagai sumber literasi ilmu baru tentang penataan kota dan transportasi yang modern. Dia berharap, bisa mengimplementasikan ilmu tersebut di Tanah Air.

Di samping itu, bahasa Inggris yang menjadi tuturan baku di sana turut menjadi bahan pertimbangan. Sejak kecil dijejali bahasa dunia lewat kurikulum pendidikan Indonesia, dirinya sudah menguasai.

Erat melekat di ingatannya, 1 Juli 2014 sebagai lesatan awal menjajal ilmu di Negeri Ratu Elizabeth. Dia hanya seorang diri ketika menapakkan kaki di London Heathrow Airport, setelah terbang 14-16 jam dari Indonesia.

Di sana, Farid mendapat sambutan hangat dari tiga rekan yang dikenal sejak setahun terakhir melalui media sosial. Namun, sematang apapun persiapan, pasti kagok saat dijalani. Sejumlah penyesuaian harus dilewati ketika memulai kehidupan. Mulai waktu tidur, pola makan, hingga melawan jet lag.

Paling terasa ketika Ramadan 2014 lalu. Durasi berpuasa di Inggris lebih panjang, sekira 19 jam. Inggris sedang musim panas sehingga matahari sudah terbit pukul 02.30 dini hari dan terbenam pukul 21.30 waktu setempat. Waktu puasa yang kelewat panjang membuat Farid kehilangan banyak berat badan.
Belum lagi dengan perbedaan budaya. Islam bukanlah agama mayoritas di kota yang juga menjadi markas klub sepak bola Arsenal, Chelsea, dan Tottenham Hotspurs itu.

Setelah setahun di London, pria yang pernah mengenyam pendidikan di SMP 1 Samarinda itu mengaku lebih siap menjalani Ramadan tahun ini. Namun, sesekali Farid masih diuji dengan lontaran pertanyaan: mengenai puasa atau Ramadan oleh rekan-rekannya di kampus. Sesekali, dirinya digoda tawaran makanan atau buah. Tentu saja, dia tahu itu hanya bercanda dan menolak secara halus.

Pemuda yang menyukai olahraga basket itu juga sempat mendapati pengalaman unik dari aktivitasnya berpuasa di London. Suatu sore, dirinya sudah terlalu lelah beraktivitas dengan perkuliahan serta organisasi. Masih ada beberapa jam sebelum waktu berbuka puasa tiba. Dia bermaksud melepas lelah dengan sekejap menutup mata.

Lupa waktu, dirinya hanya bisa terkaget-kaget ketika bangun, hari sudah menjelang pagi. Imsak tinggal setengah jam lagi. “Sekalian saja, buka puasa sekaligus sahur dengan mi instan. Alhamdulillah, masih lancar,” kenangnya.

Meski di negara bermasyarakat muslim sedikit, dirinya mengaku tidak kesulitan mencari sesamanya. Tinggal di kawasan Shadwell, kawasan timur London, dia mudah melihat segerombol orang yang berduyun-duyun beribadah ke sebuah masjid. Komunitas muslim cukup besar di sana meski jumlah masjid masih bisa dihitung jari. Asal muslim di London beragam. Sebagian besar merupakan pendatang dari Timur Tengah.

Tidak hanya di kawasan dia tinggal, di kampus pun mudah menemui mahasiswa muslim. Peraturan pemerintah London mewajibkan setiap universitas menyediakan tempat ibadah. Di situ, Farid bisa bertemu mereka.

Untuk tempat ibadah, anak kedua dari empat bersaudara itu mengaku tak mengalami kendala. Dalam pengamatannya, dalam satu borough (di Indonesia setara sebuah kecamatan), minimal ada sebuah masjid besar. Jumlah masjid semakin banyak menyesuaikan jumlah komunitas muslim di sebuah borough.

Di London, masjid besar bernama London Central Mosque besar menjadi pusat aktivitas warga muslim. Begitu pula dengan beribadah Ramadan seperti buka puasa atau tarawih. Sesekali, dirinya ikut berbuka bersama di sejumlah masjid.

“Menu yang disediakan mulai jajanan ringan ditemani buah dan air minum hingga makanan berat seperti nasi dan ayam khas India,” tuturnya. Adapun tarawih, mengingat durasi puasa yang begitu panjang, baru berjalan pukul 23.00 waktu setempat.

Khusus kegiatan bernuansa Indonesia, buah hati pasangan Iman Hidayat dan Rusdiana Hidayat itu tidak kesulitan mencarinya. Dia punya aktivitas rutin di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI). Selama Ramadan, KBRI sukses membayar kerinduan atas Bumi Pertiwi. Selalu ada buka puasa bersama dan pengajian yang dibawakan dai dari Indonesia saban akhir pekan.

Sesekali, buka bersama di kediaman duta besar Indonesia untuk Inggris. Lain waktu digelar di Kantor KBRI. Ada Keluarga Islam Indonesia di Britania Raya (Kibar) yang biasa membantu kegiatan itu. Pelajar asli London turut dilibatkan.

Ada pula aliansi antarpelajar yang tergabung dalam Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) London. Di organisasi beranggotakan 500-an pelajar Indonesia tersebut, pria yang senang mengunjungi Big Ben dan kawasan di Westminster tersebut dipercaya menjadi wakil ketua.

Meskipun banyak hal berbau Indonesia di London, rasa kangen kampung halaman, terutama saat Ramadan dan Idulfitri, tetap saja datang. Kehangatan buka puasa bersama keluarga, hiruk-pikuk interaksi pedagang dan pembeli di pasar Ramadan, sangat dirindukan Farid.
“Tidak ada yang seperti itu di sini. Kangen jajanan khas Kutai, martabak, es campur,” tuturnya. (*/ndy/fel/k9)

Sumber: http://www.kaltimpost.co.id/berita/detail/237846-kangen-jajanan-kutai-pernah-buka-sekaligus-sahur.html

Discussion

Comments are closed.

Books (Free)

“Indonesia Goes to School”

Past Events Posters

%d bloggers like this: