News

Perbedaan Penetapan Tanggal 1 Syawal 1436 H di Inggris Raya

Jakarta – Tidak ada suara adzan berkumandang melalui pengeras suara di puncak menara masjid, restoran dan kafe pun tetap buka, serta derap aktivitas sehari-hari kota Glasgow pun berjalan seperti biasanya. Tak ada euforia suasana semarak ramadhan seperti di tanah air.

Ditambah lagi waktu puasa yang jangkanya cukup panjang yakni mencapai durasi 19 jam dari waktu shubuh pukul 02.30 hingga masuk waktu maghrib pukul 22.00. Begitulah gambaran suasana bulan ramadhan yang dijalani umat muslim WNI di Glasgow, Skotlandia. Namun hal ini tidak menghalangi semangat warga muslim Indonesia untuk beribadah, dan memperbanyak kajian keislaman.

Alhamdulillah, di sini kami bisa beribadah tanpa halangan. Jumlah masjid di kota ini cukup banyak, mencapai 28 masjid sehingga kami bisa beribadah dengan leluasa. Dan di penghujung bulan Ramadan ini, penetapan tanggal 1 syawal juga merupakan hal yang dinantikan seperti layaknya di Indonesia. Di hari Ramadan ke-29 (Kamis, 16 Juli 2015), kami di Glasgow pun bersiap-siap menyambut datangnya 1 Syawal sebagai hari kemenangan.

Berbagai acara telah dipersiapkan teman-teman Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) dan jamaah pengajian Keluarga Islam Britania Raya (KIBAR) Glasgow. Diantaranya adalah menyelenggarakan halal bi halal pada hari Jumat, 17 Juli 2015. Terlebih lagi setelah mendengar informasi umat muslim di tanah air mengumandangkan takbir pasca pengumuman resmi Kementerian Agama Republik Indonesia bahwa 1 Syawal jatuh pada hari Jumat.

Di UK sendiri telah ada informasi resmi dari London Central Mosque yang berada di Britania bagian selatan, maupun Aberdeen Central Mosque yang terletak di Skotlandia sebelah utara bahwa 1 Syawal ditetapkan juga pada hari Jumat. Berkaca pada pengalaman penetapan lebaran tahun 2014 kemarin, membuat kami yakin bahwa 1 Syawal di Glasgow tahun ini pun akan serempak pada hari yang sama.

Namun ternyata pada hari kamis sekitar pukul 22.00 waktu Glasgow, setelah sempat tertunda 1 jam lamanya, forum diskusi para imam masjid se-Glasgow yang diadakan di Glasgow Central Mosque menyampaikan pengumuman bahwa 1 Syawal 1436 H jatuh pada hari Sabtu, sehingga hari Jumat masih diwajibkan untuk berpuasa. Pengumuman tersebut disertai dengan himbauan bagi warga muslim yang tetap merayakan sholat Ied pada hari Jumat untuk tidak menyelenggarakan perayaan secara besar-besaran demi menghormati umat muslim lainnya yang masih berpuasa.

Kami warga Indonesia yang tinggal di Glasgow awalnya cukup kaget mendengar pengumuman yang disampaikan, walaupun pada akhirnya menerima keputusan tersebut. Menariknya, masyarakat muslim Glasgow menyikapi secara positif akan perbedaan waktu lebaran ini.  Terbukti masih ada beberapa masjid lokal di Glasgow (terutama dengan imam/jamaah dari timur tengah) yang mengumumkan tanggal 1 syawal tetap jatuh pada hari jumat.

Namun suasana relatif kondusif, tanpa polemik yang berarti. Secara umum mereka berpendapat perbedaan ini adalah berkah dan bukan suatu masalah. Termasuk bagi kami yang akhirnya memindahkan acara halal bi halal menjadi hari sabtu setelah sholat Ied diselenggarakan.

Dari pengalaman ini, penulis menyadari ternyata perbedaan hari lebaran pun tidak hanya terjadi di Indonesia, namun juga terjadi negeri Ratu Elizabeth yang telah penulis tinggali selama 2 tahun ini. Sungguh indah apabila perbedaan tidak dipandang sebagai perpecahan, namun sebagai kekayaan. Selamat berpuasa yang masih tetap berpuasa dan selamat berlebaran bagi yang telah merayakan. Semoga kita semua meraih kemenangan.  Mohon maaf lahir dan batin.

Nor Basid Adiwibawa Prasetya
*Penulis adalah staf pengajar di Universitas Diponegoro Semarang dan sedang menjalankan studi PhD di University of Glasgow, merupakan anggota PPI Glasgow dan ketua Keluarga Islam Britania Raya (KIBAR) Glasgow periode 2013-2014.

Sumber: http://news.detik.com/kolom/2970834/perbedaan-penetapan-tanggal–1-syawal-1436-h-di-inggris-raya

Discussion

Comments are closed.

Books (Free)

“Indonesia Goes to School”

Past Events Posters

%d bloggers like this: