News

Enam Artikel Terbaik “Dare to Dream: Mendidik Anak Bangsa” PPI UK

“DARE TO DREAM, CARE TO SHARE” adalah salah satu program kerja Divisi Pengabdian Masyarakat Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) UK 2014/2015. Program ini mengundang seluruh pelajar Indonesia di UK untuk berbagi kisah atau menuangkan opini dalam bentuk tulisan. Tema tulisan berbeda-beda setiap bulan, dengan mengambil tema hari besar/ perayaan penting di bulan tersebut. Akan dipilih tiga artikel terbaik setiap bulan untuk diterbitkan di website PPI UK. Program ini akan diadakan mulai bulan Maret – Juli 2015. Seluruh artikel pilihan akan diterbitkan dalam bentuk e-book di akhir periode.

Dalam rangka Hari Pendidikan Nasional pada tanggal 2 Mei 2015, tema bulan ini adalah: “Mendidik Anak Bangsa”. Berikut adalah enam artikel terbaik yang telah dipublikasi di website PPI UK,

  • Siapa yang Bertanggung Jawab atas Pendidikan Anak-Anak Kita? oleh Esti Mardiani-Euers, mahasiswa PhD di Department of Engineering, Lancaster University

‘EDUCATION’ is a big word. Saya mencoba membuka tiga kamus, Merriem Webster, Oxford dan Oxford Learner’ dictionery, semuanya melibatkan kata ‘the process of’, dan kata berikutnya berbeda tapi maknanya kira-kira sama, yaitu educating, training, teaching, learning, receiving systematic instruction. Lalu, semuanya menyebutkan kata institusi pendidikan: schools, college, university. Oleh Oxford Learner’s Dictionery diakhiri dengan ‘to improve knowledge and develop skills’. Lengkapnya…

  • Tentang Mendidik dan Pendidikan oleh Farraas Afiefah Muhdiar, mahasiswa MSc Development, Disorder, and Clinical Practice di University of York

Teman saya pernah bilang, “passion itu sesuatu yang masih mau kita kerjain dengan senang hati meskipun nggak dibayar.” Jika memang demikian, mengajar adalah salah satu passion saya. Teaching, for me, is immensely blissful and rewarding.

Sebelum melanjutkan studi di UK, saya sempat menjadi pengajar untuk anak berkebutuhan khusus di sebuah sekolah nasional plus di Jakarta. Meskipun hanya mengajar selama 18 bulan, pengalaman mengajar tersebut akan selalu membekas di hati saya. Mengajar anak dengan autisme atau gangguan belajar membuat saya menjadi sosok yang lebih sabar dan menghargai proses dan usaha. Saya juga belajar untuk konsisten dalam mendidik serta seimbang dalam memberikan kasih sayang dan disiplin. Lengkapnya…

  • Inspirasi: Hal Sederhana yang Sering Terlupakan oleh Ika N. Listyanti, mahasiswa MA Human Resource Management, Newcastle University

Saya termasuk salah satu orang yang setuju dengan pernyataan “mengajar dan mendidik adalah dua hal yang berbeda”. Menurut pandangan saya pribadi, mengajarkan sesuatu dapat berlaku pada situasi di mana misalnya saya memberitahu bagaimana cara menjumlahkan angka 2 dengan angka 3 kepada seorang siswa kelas 1 Sekolah Dasar. Sementara mendidik memiliki makna yang lebih luas dan mendalam dibandingkan dengan hanya membantu orang lain yang sebelumnya “tidak bisa” menjadi “bisa”. Lengkapnya…

  • Teaching in a High-Stake Situation oleh Maya Puspitasari, mahasiswa PhD di School of Education, University of Glasgow

Hi, my name is Maya Puspitasari. I have been an English teacher for almost ten years at the moment. Believe me; it is hard to be a teacher in Indonesia especially if you are a pre-service teacher. There is a big gap between pre and in-service teachers in the country. Until now, I’m not sure if the examination for the teachers to be entitled in-service is an appropriate measurement. I don’t think those who passed the exam can be considered to be more qualified than those who didn’t. The exam doesn’t guarantee that those whose score is high are the better teachers than those who gain low score in the exam. What is the quality measurement standard that the government proposed? Even in some areas there are people who gave money to ‘buy’ the in-service position. Lengkapnya…

  • The Diminishing Bit of Education oleh Zefanya Wulandari, mahasiswa BA di Economics & Politics, Lancaster University

Education is a really important matter. It has been an emphasis as part of economic development, political stability within a country, and many more other things. A lot of aid has been given to countries for them to equally disperse the opportunity of getting good schooling. A lot of studies have been done in order to pursue the best approach to educate people in the most effective and efficient way. However, viewing it from my perspective, regardless the main subjects in education, it is currently missing a part that holds stronger impact on the whole situation. When you educate a person, it is not only a concern of educating that person academically. What often happens these days is a person can be educated but morally unschooled. A successful education is when a generation as a whole can present outstanding academic achievement and excellent demeanour. Lengkapnya…

  • Aku, Sekolah, dan Disabilitas oleh Muhammad Zulfikar Rakhmat, Mahasiswa MSc in International Politics, University of Manchester

Disabilitas masih menjadi hal yang tabu di masyarakat kita. Sampai hari ini masih banyak orang yang beranggapan bahwa penyandang disabilitas tidak layak untuk menempati posisi-posisi penting di masyarakat. Akibatnya, banyak diantara mereka yang pada akhirnya tersingkirkan dari kehidupan sosial. Sebagai salah satu dari mereka, aku pun tidak lepas dari stereotipe terhadap kaum difabel. Tantangan demi tantangan harus kulewati demi bisa diterima layaknya teman-temanku yang ‘sempurna.’ Salah satu tantangan terbesar yang harus kulewati adalah berhadapan dengan dunia pendidikan yang kurang memadai untuk kaum difabel. Lengkapnya…

Sumber: http://ppiuk.org/program/dare2dream-care2share/

Discussion

Comments are closed.

Books (Free)

“Indonesia Goes to School”

Past Events Posters

%d bloggers like this: