News

Fadhilah Berburu Beasiswa untuk Jadi Dosen

Fadhilah

Fadhilah Muslim, mahasiswa Indonesia di Imperial College London. (Sumber: Okezone)

JAKARTA – Di akhir studi sarjananya, Fadhilah Muslim mendapat tawaran cukup menantang yaitu menjadi asisten dosen di jurusannya. Padahal, ketika itu mahasiswi jurusan Teknik Sipil ini belum juga memulai penulisan tugas akhir. 

Syarat yang diajukan sang dosen pembimbing akademik (PA) tidak mudah, Fadhilah harus menyelesaikan studi S-2 di luar negeri jika ingin mengambil tawaran tersebut. Sang dosen juga menawarinya untuk mendaftar program beasiswa dari Ditjen Dikti Kemendikbud yang bekerjasama dengan Pemerintah Prancis. 

Gamang, Fadhilah berkonsultasi dengan kedua orangtuanya. Gadis asli Padang ini pun memutuskan mencoba mendaftar program tersebut. Semua tahap dijalaninya sesuai prosedur hingga akhirnya dia dinyatakan diterima sebagai peserta program. 

“Saya sekaligus dipersiapkan menjadi kandidat penerima beasiswa untuk program master di Prancis,” ujar Fadhillah, dalam surat elektroniknya kepada Okezone, baru-baru ini. 

Tahap berikutnya pun lebih berat. Betapa tidak, Fadhilah  harus belajar menguasai bahasa Prancis dalam waktu maksimal 10 bulan. Di saat yang sama, dia harus menyelesaikan tugas akhir sebagai syarat kelulusan studi S-1. Selain itu, Fadhillah juga harus mengikuti program fast track, yakni percepatan S-1 dan S-2 dalam lima tahun.

“Saya kuatir tidak dapat menguasai bahasa Prancis pada waktunya karena merasa tidak fokus belajar,” imbuh alumnus Universitas Indonesia (UI) ini. 

Tetapi, kekhawatiran pecinta travelling dan fotografi ini tidak terbukti. Dia berhasil lolos seleksi dan mendapatkan beasiswa S-2 di Ecole des Ponts ParisTech (ENPC). Studi S-2 ini dia rampungkan pada 2013 lalu.  

Fadhillah bercerita, menempuh studi di kampus teknik elite dunia seperti ENPC membuatnya menyadari perbedaan kemampuan dasar bidang teknik antara mahasiswa Indonesia dan Prancis. Untuk bisa diterima di ENPC, seorang mahasiswa haruslah telah mengikuti program persiapan selama sekira dua tahun untuk mengasah dan memperkuat kemampuan dasar keteknikannya. 

“Perbedaan ini kian terlihat saat ujian. Mahasiswa Prancis yang sudah mengikuti program persiapan seakan mengerjakan soal ujian dengan sangat mudah. Sementara mahasiswa asing seperti saya harus berjuang dan belajar sangat tekun agar bisa memahami dan lulus ujian dengan nilai yang memuaskan,” paparnya.  

Ketekunan dalam belajar memang sangat diperlukan. Apalagi, kata Fadhilah, nilai ujian sangat menentukan kelulusan karena sistem kuliah di kampusnya tidak mengenal bobot penilaian untuk kehadiran dan tugas. 

Menjadi mahasiswa program beasiswa merupakan tantangan tersendiri bagi gadis yang menekuni bidang concrete durability group itu. Terkadang Fadhilah khawatir tidak bisa memanfaatkan beasiswa tersebut dengan baik. 

“Ini adalah uang rakyat dan saya benar-benar harus hati-hati untuk menggunakannya. Karena pertanggungjawaban yang lebih besar adalah di hari akhir nanti kepada Allah,” tuturnya. 

Keseriusan belajar pun berimbas pada kebiasaan dosen teknik sipil di UI sepanjang 2013-2014 itu dalam mengisi waktu senggangnya. Seharusnya, kata gadis kelahiran 23 September 1990 itu, akhir pekan merupakan waktu terlarang untuk belajar dan mengerjakan tugas kuliah. Dalam perspektif Fadhilah, hari libur seharusnya diisi dengan menjelajahi dunia, memikirkan masa depan dan memperluas jaringan atau pertemanan. 

“Namun sayangnya, kadang itu teori saja. Terkadang di hari libur saya masih harus belajar dan mengerjakan tugas dengan diselingi menulis blog atau membaca novel atau biografi,” imbuhnya.  

Meski demikian, Fadhilah tidak menyesali hal itu. Apalagi, studi dengan beasiswa memberinya banyak kesempatan langka dan menarik seperti bertemu dan berdiskusi lansung dengan para pejabat pemerintahan Indonesia, baik menteri maupun anggota DPR di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI).  Selain itu, Fadhilah juga merasa lebih mencintai Tanah Air selama di Prancis. 

“Banyak orang bertanya kepada saya tentang Indonesia dan kehidupan serta kebudayaan Indonesia. Hal ini membuat saya mau tidak mau harus menggali wawasan tentang Indonesia agar tidak malu dan tidak salah menyampaikan informasi,” tutur Fadhilah. 

Sejak Juni 2014 lalu, Fadhilah pindah ke Inggris. Di sana, gadis yang baru berusia 24 tahun itu menempuh studi doktoral di Imperial College London. Setelah lulus, Fadhilah akan kembali ke almamaternya untuk mengajar di jurusan teknik sipil. 

“Banyak sekali harapan dan cita-cita yang ingin saya lakukan ketika pulang ke Indonesia termasuk mendirikan dan mengembangkanresearch center concrete sesuai dengan keahlian saya,” ujarnya.(rhs)

Sumber: http://news.okezone.com/read/2014/10/10/65/1050716/fadhilah-berburu-beasiswa-untuk-jadi-dosen

Discussion

Comments are closed.

Books (Free)

“Indonesia Goes to School”

Past Events Posters

%d bloggers like this: