News

Begini Rasanya Puasa di London dan Paris, Seru dan Sedih Jadi Satu

Jakarta – London dan Paris. Dua kota yang saya pilih untuk menuntut ilmu selepas saya menyelesaikan program sarjana di Indonesia. Tepat satu tahun yang lalu, ketika diri ini masih di Paris untuk menyelesaikan program master. Dan kini Paris hanya tinggal kenangan karena kaki ini sudah tidak lagi menapak di sana, kini saya pun berpijak di kota London sejak akhir Mei 2014 untuk menjalani program doktor saya.

Berbicara tentang Ramadan di luar negeri, tentu bukan menjadi hal pertama bagi saya. Paris telah terlebih dahulu menjadi tempat saya merasakan puasa sekitar 19 jam. Walaupun persamaan dari kedua kota ini adalah waktu Ramadan baik tahun ini maupun tahun sebelumnya sama-sama jatuh di musim panas, namun puasa di London jauh terasa lebih ringan dibandingkan di Paris.

Kota London yang sering saya juluki sebagai kota galau karena cuacanya yang tidak menentu seperti hujan disaat kemarau misalnya, menjadikan London terasa lebih sejuk dibandingkan dengan Paris. Tentu hal inilah yang menjadikan berpuasa di London lebih bahagia dibandingkan di Paris. Puasa 19 jam tentu bukanlah hal yang sulit bagi saya, haus dan lapar hanyalah perkara biasa yang dialami oleh mayoritas penduduk muslim yang sedang berpuasa di manapun berada.

Satu hal yang membuat saya rindu akan Ramadan di Indonesia adalah saat di London maupun di Paris, tak pernah sekali pun saya pergi ke masjid untuk menjalankan salat Tarawih berjamaah. Berbeda dengan Indonesia di mana setiap harinya saya pun bisa dengan mudah menjalankan ibadah ini berjamaah di masjid. Terkadang rasa sedih dan kangen akan serunya puasa di Tanah Air itu mucul di pikiran saya.

Tidak bisa Tarawih jamaah bukan karena keinginan dan niat hati yang tidak ada. Namun apa daya, jadwal berbuka puasa yang berkisar pukul 21.30 dan Isha pukul 22.30-23.00 serta lokasi masjid yang sangat jauh dari tempat tinggal saya.

Terpaksa dengan sedih hati saya pun harus melewatkan ibadah spesial yang hanya ada di Bulan Ramadan ini. Dikarenakan berjalan di malam hari di atas pukul 23.00 tentu sangat berbahaya bagi saya sebagai seorang wanita, sehingga salat seorang diri di rumah menjadi pilihan yang harus saya lakukan.

Namun, hal yang paling ditunggu-tunggu menjalankan puasa di luar negeri ini adalah bahwa baik KBRI di Paris maupun di London, sama-sama mengadakan buka puasa bersama setiap hari Sabtu. Sebagai seorang mahasiswa, tentu momen ini seharusnya tidak boleh saya lewatkan sekalipun, bagaimana tidak, melewatkan berbuka puasa bersama di KBRI, itu artinya melewatkan untuk merasakan makan nikmat dengan beragam menu buka puasa gratis yang disediakan oleh pihak KBRI.

Tentu tidak itu saja, melewatkan acara ini, berarti melewatkan kesempatan untuk membungkus makanan yang masih tersisa sebagai bekal sahur dan buka di esok hari.

KBRI dengan baik hatinya sudah menyiapkan wadah untuk membungkus makanan. Dan tanpa lama-lama para mahasiswa langsung mengambil makanan yang ada di depan mata. Yap, inilah kebahagian tersembunyi yang dirasakan oleh saya dan teman-teman, di mana bisa menghemat pengeluaran dan makan masakan lezat untuk 1 atau 2 hari ke depan. Alhamdulillaah!

Namun di luar itu semua, sebenarnya hal yang tentu menjadi positif dari kegiatan ini adalah bahwa sebelum jadwal berbuka tiba, baik di Paris maupun di London, pihak KBRI sama-sama mengundang penceramah untuk memberikan tausiyah selama 1-1.5 jam. Itu artinya setidaknya seharusnya saya sebagai mahasiswa di luar negeri, tepatnya di kota London, bisa mendengarkan ceramah agama dan diskusi secara langsung meskipun hanya satu kali seminggu.

Hal lain adalah bertemu dengan teman-teman serta saling canda tawa, bersilaturahmi dengan pihak KBRI, tentu menjadi sisi positif lain dari kegiatan ini. Sehingga sejauh apapun lokasi KBRI, sesibuk apapun kita, pasti sebisa mungkin kita akan datang ke KBRI untuk berbuka puasa bersama. Hal ini juga menjadi kelebihan bagi mahasiswa yang belajar di ibukota sebuah negara dibandingkan teman-teman lain yang berada jauh di pelosok daerah, kita di Ibukota akan sering berpastisipasi dalam kegiatan yang diadakan oleh KBRI, yang artinya menambah dan memperkuat jaringan lain.

Paris, kota yang menjadi saksi perjalanan saya menempuh puasa Ramadan sekitar 19 jam pada saat musim panas untuk pertama kalinya. Dan London, kota yang akan menemani saya untuk menjalankan ibadah Ramadan dalam 3-4 tahun ke depan. Bismillaah. Semoga ibadah puasa kita diterima Allah SWT.

Oleh: Fadhillah Muslim

Sumber: http://ramadan.detik.com/read/2014/07/15/121114/2637452/1598/1/begini-rasanya-puasa-di-london-dan-paris-seru-dan-sedih-jadi-satu

Discussion

Comments are closed.

Books (Free)

“Indonesia Goes to School”

Past Events Posters

%d bloggers like this: