News

Ramadan di Negeri Ratu Elizabeth, Toleransi dan Hangatnya Kebersamaan

Jakarta – Alhamdulillah, tahun ini merupakan tahun kedua saya menjalankan ibadah puasa di negeri Ratu Elizabeth yang berada di belahan dunia yang ribuan kilometer jauhnya dari Tanah Air. Nama saya adalah Monica Chua, seorang pelajar tahun akhir di sebuah universitas di Inggris, tepatnya di University of Gloucestershire London Campus.

Puasa tahun ini dan tahun sebelumnya ada sedikit yang berbeda, tiada keluarga yang menemani sahur dan berbuka, tiada suara angklung dan ketukan gendang para pemuda pemudi komplek sambil berteriakan “sahur sahur’’, tiada suara sirene yang menandakan di mulai dan berakhirnya puasa. Sebaliknya, hanya suara kendaraan yang lalu lalang di depan rumah saya.

Bagi saya, puasa di negeri ini butuh kekuatan baik secara fisik dan mental. Kenapa? Lamanya waktu berpuasa, yaitu hampir 19 jam lamanya, puasa di mulai pada pukul 02.48 dan berakhir pada pukul 9.25 waktu London, di karenakan Ramadan tahun ini jatuh pada musim panas sehingga siang hari lebih panjang dari malam. Meskipun di musim panas, cuaca di Inggris, London tepatnya, sering kali mendung dan hujan. Tidak sebanding dengan suhu udara di tempat kelahiran saya yaitu Padang, Sumatera Barat yang suhu sehari-harinya bisa mencapai 35 derajat selsius.

Walaupun Inggris bukan merupakan negara yang mayoritasnya umat muslim, pemerintah Inggris bertoleransi terhadap umat muslim yang berpuasa dengan menyediakan layanan medis dan ambulans bagi yang memerlukan, di karenakan waktu berpuasa yang panjang. Takutnya ada tidak kuat dan sakit atau pingsan.

Menjadi kaum minoritas di sini membuat suasana berpuasa terasa sangat amat berbeda, tetapi saya tetap gembira dan bersyukur menjalaninya. Pada puasa pertama tanngal 29 Juni yang lalu, saya dan teman-teman sesama pelajar dari Indonesia, mengadakan acara berbuka bersama. Kebersamaan dan makanan-makanan khas Indonesia seperti rendang, dendeng balado dan ayam bakar sedikit mengobati kerinduan saya terhadap tanah air.

Walaupun saya harus menahan haus dan lapar lebih lama di banding keluarga dan teman-teman di tanah air, saya bersyukur karena di beri kekuatan untuk menjalani ibadah ini. Kesibukan di kampus, tugas dan skripsi seolah-olah membuat saya lupa bahwa saya sedang di “grounded” dari makan dan minum. Saya yakin, walaupun waktu berpuasa yang lama, umat muslim di belahan bumi ini di berikan kemudahan dan kekuatan oleh Allah.

Oleh: Monica Chua*

*) Penulis adalah pengurus PPI-London 2013/2014 dan mahasiswa University of Gloucestershire, Inggris.

Sumber: http://ramadan.detik.com/read/2014/07/05/104703/2628619/1598/ramadan-di-negeri-ratu-elizabeth-toleransi-dan-hangatnya-kebersamaan

Discussion

Comments are closed.

Books (Free)

“Indonesia Goes to School”

Past Events Posters

%d bloggers like this: