News

Maulid Nabi Mentafakuri Kembali Aqidah Kehidupan

London (ANTARA News) – Banyak pemahamanan yang salah terhadap aqidah dalam kehidupan yang bukan dari Islam sehingga menyebabkan terjadinya kekecewaan dan kesedihan serta rasa kurangnya harga diri, kata Ustad Ardi Muluk, staf pengajar di Universitas Andalas Padang.

Hal itu diungkapkan Ustad Ardi Muluk dalam acara perngajian bulanan yang diadakan masyarakat Indonesia di London dan sekitarnya, di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) London, Sabtu malam.

Kepala Pengajian KBRI London, T.A Fauzi Soelaiman pengatakan, pada pengajian bulanan yang dihadiri sekitar 200 umat Muslim Indonesia yang ada di London dan sekitarnya, Ardi Muluk yang juga mahasiswa doktoral Universitas Exeter, menyampaikan ceramahnya berjudul “Mentafakuri kembali aqidah kehidupan yang diajarkan Rasulullah” diawali dengan shalat Isya dan makam malam bersama.

Menurut Ardi Muluk, peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW bertujuan untuk meneruskan risalah kehidupan para nabi sebelumnya karena ada keinginan untuk mengkaji tujuan kehidupan.

Staf pengajar jurusan teknik industri, Universitas Andalas Padang, Sumatera Barat, mengatakan bahwa memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW seharusnya umat Muslimin Indonesia yang ada di Inggris dapat mentafakuri kembali aqidah kehidupan yang diajarkan Rasulullah, meskipun Nabi sendiri tidak pernah memperingati hari kelahirannya.

Dikatakannya tugas Rasulullah yang utama adalah membawa din (agama) yang benar, din dalam Islam adalah peraturan Allah yang membawa orang berakal yang memahami hakidah dalam Islam. Kadangkala din tertutup oleh akidah lainnya yang bisa dilihat pengaruhnya pada umat Islam dalam kehidupannya sehari hari.

Secara istilah khusus, din Islam dapat didefinisikan sebagai peraturan Allah yang membawa orang-orang berakal ke arah kebahagiaan dunia dan akhirat, yang mencakup masalah aqidah dan amal.

Secara istilah aqidah merupakan pemikiran menyeluruh tentang alam dan kehidupan manusia, kehidupan yang ada sebelum dan sesudah kehidupan dunia; serta tentang hubungan kehidupan dunia dengan kehidupan sebelum dan sesudahnya.

Mengutip Islam Politik dan Spiritual, oleh Hafidz Abdurrahman, din adalah suatu sistem yang mencakup peraturan-peraturan yang menyeluruh, serta merupakan “undang-undang” yang lengkap dalam semua urusan hidup manusia untuk kita terima dan mengamalkannya secara total (kaffah).

Dalam penjelasannya, ustad Ardi Muluk mengatakan seringkali tafakur diartikan sebagai berfikir sesaat lebih utama dari pada ibadah setahun, untuk itu hal yang perlu difahami dalam kehidupan tafakur yang dirincinya dalam tujuh hal.

Sementara itu Kaab bin Malik berkata, “Barangsiapa menghendaki kemuliaan akhirat, maka hendaknyalah ia memperbanyak tafakur”.

Secara rinci Ustad Ardi Muluk menyebutkan, tafakur yang pertama adalah pemahaman bahwa semua itu datangnya dari Allah. Tafakur ke dua yang perlu difahami adalah bahwa adanya dua kehidupan manusia di dunia pertama kehidupan sementara dan kehidupan kedua heaven or hell,sedangkan pamahaman dalam tafakur ketiga adalah hidup di dunia untuk di uji, sebenarnya untuk apa Allah memberikan kehidupan kepada kita kalau bukan untuk di uji.

Sedangkan tafakur keempat adalah adanya ujian keimanan dan ketaatan akan keimanan, dan tafakur kelima adalah pemahaman bahwa waktu menjadi modal bagi manusia. “Waktu itu menjadi modal untuk di akherat,” ujarnya.

Dan tafakur ke enam yang perlu dipahami adalah bahwa manusia akan kembali kepada Allah, sedangkan tafakur ketujuh adalah hanya ada satu pilihan yaitu manusia harus taat secara totalitas, demikian Ardi Muluk. (ZG)#

Sumber: http://www.antaranews.com/berita/416135/maulid-nabi-mentafakuri-kembali-aqidah-kehidupan

Discussion

Comments are closed.

Books (Free)

“Indonesia Goes to School”

Past Events Posters

%d bloggers like this: