News

Hubungan Bilateral Indonesia dan Inggris

Jum’at, 16 Maret 2012

Pada hari Selasa, 6 Maret 2012, terjadi peristiwa yang cukup bersejarah bagi hubungan bilateral antara Republik Indonesia dan Kerajaan Inggris.

Pada hari itu Duta Besar Indonesia untuk Kerajaan Inggris Raya, TM Hamzah Thayeb,menyerahkan surat kepercayaan (letter of credential) kepada Ratu Elizabeth II.Yang menjadikan peristiwa ini unik dari penyerahan surat kepercayaan sebelumnya dikarenakan lebih dari 10 tahun yang lalu ayahanda Dubes Hamzah Thayeb, yakni TM Hadi M Thayeb,menyerahkan surat kepercayaan sebagai dubes juga kepada Ratu Elizabeth II. Peristiwa ini menjadi bersejarah karena pertama kalinya bapak dan anak dalam satu keluarga mewakili Indonesia sebagai Duta Besar di Kerajaan Inggris Raya.Sebelumnya, pada 23 Februari 2012, Presiden Susilo Bambang Yudhyono dalam pengarahannya dalam rapat kerja Kementerian Luar Negeri dan perwakilan RI di luar negeri menekankan pentingnya diplomasi di bidang ekonomi. Diplomasi itu dalam konteks untuk mendatangkan investasi, meningkatkan ekspor, dan memacu pendapatan devisa melalui pariwisata terkait kebijakan ekonomi pemerintah untuk terus-menerus mendorong pertumbuhan ekonomi dan tentu saja diiringi penciptaan lapangan kerja. Hamzah Thayeb sendiri sudah menyampaikan hal tersebut kepada Ratu Elizabeth II mengenai perlunya meningkatkan hubungan kedua negara pada tahap yang lebih konkret, yakni dalam bidang ekonomi.

Berdasarkan data Kementerian Perdagangan, ekspor Indonesia ke Inggris terus meningkat. Pada 2007 ekspor Indonesia ke Inggris hanya USD1,45 miliar naik menjadi USD1,72 miliar tahun 2001. Sementara pada 2007 impor Indonesia hanya USD653,9 juta, naik menjadi USD937,9 pada 2011. Hal yang menarik apabila kita melihat sektor pariwisata. Dapat dilihat bahwa jumlah wisatawan Inggris yang berkunjung ke Indonesia ternyata merupakan tertinggi untuk wisatawan asal Eropa.

Menurut data Kementerian Pariwisata & Ekonomi Kreatif dari tahun 2006–2011 jumlahnya meningkat dari 137.655 menjadi 192.355 wisatawan.Untuk daerah wisata yang relatif terkenal seperti Bali,Yogyakarta dan Lombok bisa ditawarkan paket wisata khusus dan unik terutama untuk wisatawan kelas menengah dan atas.Adapun bagi wisatawan dengan jiwa petualangan tinggi, objek wisata di Sumatera Barat, Sulawesi Utara, Sumatera Selatan bisa jadi alternatif.

Krisis dan Agenda Diplomasi

Salah satu yang menjadi tantangan utama dalam upaya Pemerintah Indonesia untuk mewujudkan diplomasi ekonomi di Inggris adalah keadaan ekonomi di negeri Ratu Elizabeth ini sedang terpengaruh oleh krisis ekonomi regional Eropa. Pemerintah Inggris di bawah Perdana Menteri David Cameron sedang memangkas pengeluaran pemerintah secara besar-besaran dan tentu saja salah satu alokasi yang diprioritaskan untuk dikurangi adalah bantuan internasional.

Salah satu yang menjadi berita besar adalah pengurangan alokasi dana dari Kementerian Luar negeri Inggris untuk program radio BBCWorld Servicedi tahun 2011 sebesar 16%, termasuk di dalamnya BBC Indonesia. Artinya, menjajaki kerja sama dengan pihak nonpemerintah seperti perusahaan, asosiasi bisnis menjadi lebih penting lagi bagi agenda diplomasi Indonesia di Inggris. London, sebagai salah satu pusat industri keuangan terkemuka di dunia, tentu saja mencari alternatif untuk menanamkan portofolio investasinya di negara berkembang yang tetap mengalami pertumbuhan ekonomi di antaranya negara-negara di kawasan Asia.

Dengan demikian Indonesia diharapkan dapat bersaing dengan negara-negara berkembang yang sudah lebih dikenal seperti China dan India untuk mengundang investasi baik dalam bentuk portofolio (saham, obligasi,reksa dana) maupun dalam bentuk penanaman modal langsung, misalnya dalam bentuk pembangunan pabrik yang padat karya. Selain itu, di bidang pendidikan dan kebudayaan juga banyak potensi yang bisa digali untuk kepentingan Indonesia di Inggris.

Pada Simposium Asia Tenggara di University of Oxford, 10 -11 Maret 2012, oleh Project Southeast Asia ternyata Indonesia tetap menjadi objek penelitian yang menarik dengan adanya sembilan dari hasil penelitian terkait Indonesia serta tiga di antaranya dilakukan oleh mahasiswa doktoral asal Indonesia. Skema beasiswa di luar dari yang disediakan oleh baik Pemerintah Inggris (Chevening) atau Indonesia (Dikti, kementerian lainnya) diharapkan dapat disediakan oleh perusahaan swasta atau yayasan pendidikan berbasis di Inggris atau Indonesia.

Untuk bidang seni dan budaya, komunitas Indonesia serta warga Inggris yang mempunyai minat budaya Indonesia dapat pula diberdayakan. Sebagai contoh School of Oriental & Africa Studies (SOAS) di London sering mengadakan pergelaran kesenian, begitu juga adanya kelompok warga Inggris dan Indonesia yang tergabung dalam Oxford Gamelan Society yang bisa diajak kerja sama oleh KBRI London sebagai perwujudan kontak langsung dengan warga Inggris untuk bersama-sama mempromosikan Indonesia.

Hubungan kedua negara sudah berjalan dengan sangat baik dan telah berlangsung lama.Akhirnya,sebagai diplomat karir dengan pengalaman yang panjang tentunya kita berharap agar Dubes Hamzah Thayeb dapat sukses menggali potensi-potensi kerja sama baru serta mendorong agenda ekonomi, politik, keamanan, pendidikan serta kebudayaan Indonesia agar dapat berhasil di perjuangkan di Inggris.

VISHNU JUWONO
Kandidat Doktor Bidang Sejarah Internasional di London School of Economics & Political Science (LSE), London; email: v.juwono@lse.ac.uk

Sumber : HARIAN SEPUTAR INDONESIA
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/478043/

Discussion

Comments are closed.

Books (Free)

“Indonesia Goes to School”

Past Events Posters